Rupiah Indonesia jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS

Anjloknya nilai tukar mata uang terjadi ketika guncangan energi akibat perang Iran memberikan dampak buruk terhadap perekonomian Asia Tenggara.

Rupiah Indonesia telah mencapai titik terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya harga energi.

Mata uang tersebut mencapai 18.028 terhadap greenback pada hari Kamis, meskipun ada upaya bank sentral baru-baru ini untuk memberikan dukungan.

Cerita yang Direkomendasikan

daftar 4 barang

daftar akhir

Guncangan energi yang disebabkan oleh perang AS-Israel terhadap Iran telah memberikan tekanan yang signifikan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina.

Tekanan terhadap neraca perdagangan telah berkontribusi terhadap arus keluar modal dan melemahnya mata uang.

Permusuhan di Teluk kembali berkobar pada hari Rabu, menyebabkan harga minyak naik lebih dari 1 persen.

Menambah wilayah regional, Amerika Serikat telah mengusulkan bea masuk tambahan sebesar 10 persen atau 12,5 persen terhadap barang-barang dari 60 negara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Singapura, atas dugaan kegagalan kerja paksa.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan nilai tukar 18.000 merupakan “ambang batas psikologis” bagi investor pasar.

Pelemahan tersebut, katanya kepada kantor berita AFP, dipicu oleh tingginya permintaan dolar yang disebabkan oleh beredarnya harga minyak dan menyempitnya surplus perdagangan.

Indonesia merupakan negara pengimpor minyak (net oil importer) dan sangat terkena dampak kenaikan harga minyak mentah, meskipun pemerintah bersikukuh akan mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi tidak berubah.

Surplus perdagangan negara ini telah terpukul, menjadi hanya $89 juta pada bulan April, dari $3,3 miliar pada bulan sebelumnya, sehingga semakin mengurangi pasokan dolar di pasar Indonesia, kata Josua.

“Pasokan dolar dari perdagangan barang semakin berkurang, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan mentah, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan,” ujarnya.

“Inilah alasan BI naik [Bank Indonesia] suku bunga pinjaman dan intervensi tidak cukup untuk menukar nilai rupiah [depreciation].”

Bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 0,5 basis poin menjadi 5,25 persen pada bulan lalu – kenaikan pertama dalam dua tahun – sebagai upaya untuk menstabilkan rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali.

Juru bicara bank sentral, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya terus menggunakan “semua instrumen kebijakan yang tersedia” untuk “menjaga likuiditas valuta asing yang memadai”.

Bank Indonesia juga memperketat aturan pembelian dolar.

Sejak bulan Mei, pembeli dengan jumlah lebih dari $25.000 pada bulan tertentu diharuskan memberikan dokumen pendukung untuk membenarkan kebutuhan mereka akan mata uang AS.

  • Related Posts

    Viral Pelajar SMA Dikeroyok hingga Ditendang di Bogor, Polisi Selidiki

    Bogor – Rekaman video yang memperlihatkan seorang remaja dikeroyok hingga diinjak-injak sesama pelajar di Baranangsiang, Kota Bogor, viral di media sosial. Polisi menelusuri kejadian tersebut. “Kita sedang penyelidikan, siapa saja…

    Rupiah dan IHSG Anjlok, DPR Minta Menkeu hingga BI Segera Intervensi

    Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal meminta pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Bank Indonesia, segera merespons anjloknya rupiah terhadap dolar hingga IHSG.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *