Dolar yang lebih kuat, biaya energi yang lebih tinggi, dan kecerahan pasar memberikan tekanan pada mata uang di seluruh Asia.
Perebutan Selat Hormuz memicu guncangan ekonomi baru di Asia.
Ketika harga minyak naik dan investor beralih ke dolar AS atau emas, mata uang di seluruh benua melemah.
Rupee India dan Peso Filipina telah jatuh ke rekor terendah.
Nilai tukar rupiah saat ini lebih lemah dibandingkan saat krisis keuangan Asia terjadi.
Mulai dari Jepang hingga Korea Selatan, bank sentral telah menghabiskan miliaran dolar untuk memperlambat penurunan perekonomian.
Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada energi impor, lemahnya mata uang berarti biaya yang lebih tinggi, mulai dari bahan bakar hingga makanan.






