Somalia membutuhkan penyelesaian politik sebelum terlambat

Somalia sedang memasuki salah satu momen paling berbahaya dalam sejarahnya tanpa adanya kesepakatan menuju pemilu atau transisi politik. Pembicaraan antara pemerintah dan oposisi yang dipimpin Amerika Serikat dan Inggris gagal pada tanggal 15 Mei, tanggal berakhirnya masa jabatan empat tahun Presiden Hassan Sheikh Mohamud, sehingga menyebabkan legitimasi lembaga-lembaga penting federal berada di bawah tekanan yang serius.

Justin Davis, kuasa usaha AS untuk Somalia, dan duta besar Inggris, Charles King, telah berusaha membujuk para pemimpin politik dari kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan mengenai peta jalan transisi politik. Kegagalan mereka menyebabkan negara ini tidak mempunyai jalan keluar yang disepakati pada saat yang paling buruk.

Sejak tahun 2008, Somalia sering menduduki peringkat sebagai salah satu negara paling rapuh di dunia. Di bawah kepemimpinan Presiden Mohamud, negara ini kini menghadapi kebuntuan politik yang mengancam kelangsungan hidupnya. Krisis ini terjadi di tengah ketidakamanan, tekanan kemanusiaan, kerapuhan ekonomi, korupsi yang meluas, dan perubahan persaingan geopolitik.

Inti dari krisis ini adalah sifat negara Somalia yang rumit. Somaliland menginginkan kemerdekaan, sementara Puntland dan Jubbaland telah memutuskan hubungan dengan Pemerintah Federal. Al-Shabab menguasai sebagian besar wilayah negara dan jalan-jalan utama. Pemerintah Federal dan setidaknya tiga Negara Anggota Federal juga telah melampaui mandat mereka. Kalender pemilu yang diselenggarakan telah berakhir tanpa pemungutan suara: mandat empat tahun parlemen berakhir pada bulan April 2026, dan masa jabatan presiden berakhir pada bulan berikutnya, namun tidak ada peta jalan yang disepakati untuk pemilu atau transisi politik untuk penggantinya.

Dalam proses yang kontroversial, pemerintah secara sepihak mengubah konstitusi, mengesahkan undang-undang pemilu yang dipandang oleh para penentangnya hanya untuk kepentingan diri sendiri, dan membentuk komisi pemilu yang mereka tolak karena dianggap berat sebelah. Selama empat tahun terakhir, kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif semakin berkuasa di tangan Presiden Mohamud.

Oposisi nasional Somalia, bersama dengan Puntland dan Jubbaland, menganggap tindakan pemerintah sebagai perebutan kekuasaan dan penolakannya. Mereka berpendapat bahwa konstitusi tahun 2012, yang mencerminkan penyelesaian politik Somalia, tetap menjadi hukum negara. Akibatnya, Somalia kini terjebak di antara dua klaim legitimasi konstitusional yang saling bersaing. Pemerintah bersikukuh bahwa mereka sedang mencapai tujuan demokrasi yang telah lama dicita-citakan di Somalia, yaitu perubahan dari pemilihan tidak langsung yang dimediasi oleh klan menjadi pemilihan satu orang, satu suara, dan bahwa amandemen konstitusi yang memperpanjang masa jabatan presiden dari empat menjadi lima tahun telah disetujui secara sah oleh parlemen.

Hak memilih universal dan politik berbasis partai masih menjadi cita-cita masyarakat Somalia. Menyadari kenyataan ini, baik pemerintah maupun oposisi terus menerima sistem pembagian kekuasaan berbasis klan. Namun, mereka tidak sepakat mengenai bagaimana anggota parlemen yang mewakili klan harus dipilih di tingkat negara bagian dan federal. Pemerintah mengupayakan perpanjangan masa jabatan satu tahun dan mengusulkan sistem pemilihan bagi perwakilan klan yang menurut para kritikus akan membantu pemerintah mempertahankan kekuasaannya. Sebaliknya, pihak oposisi menyarankan perbaikan proses pemilihan tidak langsung di mana klan akan memilih wakil-wakil mereka.

Perpecahan politik ini terjadi di negara yang sudah menghadapi tantangan keamanan dan pemerintahan yang parah. Meskipun keamanan di ibu kota telah membaik, kekerasan yang meluas masih terjadi, khususnya di Somalia tengah-selatan. Menurut database ACLED, angka kematian nasional mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025, dan al-Shabab bertanggung jawab atas sebagian besar kematian akibat konflik yang tercatat selama dua dekade terakhir. Selama empat tahun masa pemerintahan pemerintahan saat ini, data yang sama menunjukkan adanya puluhan ribu kematian di seluruh negeri, terutama muncul di Banadir, Hilir Shabelle, Hilir Jubba dan Hiran.

Krisis ini juga terjadi dengan latar belakang kemanusiaan dan ekonomi yang memburuk. Meskipun hujan turun di seluruh negeri, lembaga-lembaga kesejahteraan memperingatkan bahwa jutaan warga Somalia mengalami rawan pangan. Upaya kemanusiaan internasional sedang berjuang untuk mengumpulkan dana guna membantu mereka yang terkena dampak kemiskinan, pengungsian dan konflik. Bantuan luar negeri telah menurun sejak pemerintah Trump membubarkan USAID pada tahun 2025, sementara rasio pendapatan domestik terhadap PDB Somalia masih berada di angka satu digit. Kekhawatiran terhadap kelayakan dan keterjangkauan dana negara telah menyebabkan banyak orang beralih ke ekonomi berbasis sumber daya, terutama ketika Turki memperluas keterlibatannya dalam sektor minyak dan perikanan Somalia.

Korupsi semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara. Menurut Indeks Persepsi Korupsi, Somalia secara konsisten berada di peringkat negara paling korup di dunia selama satu dekade terakhir. Korupsi yang meluas telah mencakup hampir setiap aspek pemerintahan. Pendekatan pemerintah terhadap pengelolaan lahan telah memperdalam kekhawatiran ini, dengan para kritikus yang menuduh pemerintah melakukan pengusiran paksa terhadap penduduk yang menduduki lahan publik selama perang dan menjual sebagian lahan tersebut kepada pedagang tanpa proses hukum. Banyak warga negara yang memiliki dokumen resmi dari pemerintahan sebelumnya juga kehilangan rumah mereka.

Tekanan domestik ini diperburuk oleh persaingan regional dan global. Somalia sedang berjuang untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di Tanduk Afrika, Teluk Aden, Laut Merah dan Samudera Hindia bagian barat. Kelas politik yang terpecah di negara ini menangani tantangan-tantangan ini bukan sebagai negara yang bersatu, namun melalui wilayah, klan, dan blok politik yang saling bersaing. Berbagai kelompok telah bersekutu dengan berbagai kekuatan regional dan negara-negara tetangga.

Para pemain regional, termasuk Turki, Arab Saudi, Israel, Uni Emirat Arab, Iran dan Mesir, semakin aktif di Tanduk Afrika. Israel menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Somaliland pada akhir tahun lalu, meningkatkan persaingan di antara kekuatan regional yang bersaing dan menarik perhatian lebih lanjut ke Somalia dan Somaliland di tengah perubahan geopolitik di kawasan.

Tekanan politik, keamanan, ekonomi dan kemanusiaan juga berdampak serius terhadap ruang sipil. Pemerintah memaparkan perbedaan pendapat dengan memenjarakan jurnalis dan aktivis sipil. Pihak oposisi kini mengancam, sementara pemerintah secara terbuka menghambat partisipasi masyarakat.

Apa yang harus terjadi sekarang

Somalia berada pada titik kritis. Intervensi yang tepat waktu dari komunitas internasional dapat membantu mengalihkan negara ini dari kekerasan dan fragmentasi politik. Di masa lalu, donor tradisional, terutama Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris, membantu memfasilitasi lima transisi politik terakhir di Somalia, pada tahun 2004, 2008, 2012, 2016, dan 2022.

Para diplomat Amerika dan Inggris di Mogadishu melakukan upaya penting untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai dan memfasilitasi dialog, meskipun upaya ini terlambat. Dorongan terakhir mungkin memerlukan lebih banyak keterlibatan langsung dari Washington dan London, serta keterlibatan dengan donor non-tradisional Teluk. Turkiye juga menyatakan minatnya untuk berkontribusi dalam upaya mediasi. Hal ini patut disambut dengan baik, karena Ankara memiliki pengaruh terhadap aktor-aktor politik baik di pemerintahan maupun oposisi.

Komunitas internasional pertama-tama harus menekan pemerintah untuk merundingkan peta jalan politik dengan itikad baik, dengan fokus pada proses pemilu yang bisa dilaksanakan dan tepat waktu. Villa Somalia juga harus berhenti menggunakan lembaga-lembaga negara, termasuk pasukan keamanan, badan penerbangan dan bantuan internasional, sebagai alat dalam melemahkan politik.

Pada saat yang sama, pihak-pihak yang oposisi harus didorong untuk terlibat secara konstruktif dengan pemerintah dan menghindari dimulainya proses paralel yang dapat mengarah pada pembentukan pemerintahan alternatif. Yang paling penting, komunitas internasional harus menjatuhkan sanksi yang ditujukan kepada para perusak politik yang menggunakan cara di luar hukum untuk membiayai stabilitas negara.

Selain kebuntuan politik yang terjadi saat ini, terdapat juga kebutuhan mendesak akan dialog dan rekonsiliasi nasional yang sejati. Proses perdamaian sebelumnya di Djibouti dan Kenya melibatkan lebih banyak aktor dalam pembangunan perdamaian dan membantu pembentukan Republik Ketiga. Satu pelajaran yang bisa diambil dari proses-proses tersebut adalah bahwa lembaga-lembaga yang dibangun oleh masyarakat yang belum sepenuhnya berdamai tidak akan bisa bertahan lama. Masyarakat Somalia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam dialog nasional yang serius dan inklusif. Mereka membutuhkan forum terbuka, rekonsiliasi sejati, dan institusi negara yang mereka miliki secara kolektif.

Somalia berada di ambang disintegrasi politik, namun masih dalam tahap pencegahan. Itulah sebabnya komunitas internasional yang lebih luas harus bertindak sekarang, sama seperti di masa lalu. Masih ada waktu untuk membimbing Somalia keluar dari jalur yang merusak diri sendiri dan menjaga investasi selama puluhan tahun dalam pembangunan negara dan pembangunan perdamaian.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap editorial Al Jazeera.

  • Related Posts

    PDIP Soroti Dana Pribadi Prabowo dalam Kunjungan Luar Negeri

    PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP menyoroti jawaban Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya ketika menanggapi kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terhadap Presiden…

    Mendikti Bentuk Tim Usut Dugaan Pemalsuan Riset demi Travel Grant

    MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan dugaan pemalsuan riset dan identitas oleh empat warga negara Indonesia yang ramai diperbincangkan di media sosial diduga dilakukan untuk memperoleh fasilitas…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *