Kolaborasi Warga dan Satgas PRR Pulihkan 1.323 Hektare atau 88 Persen Sawah di Solok

INFO TEMPO – Hamparan sawah di Jorong Batu Palano, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, kembali terlihat hijau pada Senin pagi, 25 Mei 2026. Di beberapa petak, padi sudah menguning dan dipanen warga.

Enam bulan lalu kawasan itu tertutup pasir, lumpur, dan batang kayu akibat banjir bandang yang menerjang tiga provinsi di Sumatra, akhir November 2025. Irigasi sempat rusak, aliran air tak beraturan, dan sebagian petani khawatir kehilangan musim tanam lebih lama.

Namun Solok bergerak cepat. Hanya dalam beberapa bulan, sawah kembali diolah. Petani mulai menanam lagi, bahkan sebagian sudah menikmati panen perdana sejak akhir April silam.

Data Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mencatat Kabupaten Solok menjadi daerah dengan progres rehabilitasi sawah tercepat di Sumatra Barat. Hingga pertengahan Mei 2026, masa tanam telah mencapai sekitar 1.323 hektare atau setara 88 persen dari target rehabilitasi sawah terdampak.

Percepatan itu ditopang koordinasi Satgas PRR dan pemerintah daerah, kerja penyuluh pertanian, dukungan kelompok tani, serta inisiatif warga yang memilih bergerak cepat memulihkan lahannya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Semangat ini sejalan dengan amanat Kasatgas PRR Tito Karnavian yang sangat memahami pentingnya pemulihan sawah demi perekonomian di daerah. “Ini hal urgent, Karena itu, ada anggaran dari kementerian dan lembaga,” ucap Tito. “Lahan-lahan ini harus segera kembali produktif agar masyarakat bisa kembali bercocok tanam dan roda ekonomi daerah bergerak lagi.”

Terlebih, bagi masyarakat Nagari Salayo, pemulihan sawah bukan sekadar memperbaiki lahan pertanian. Mereka berpacu dengan waktu agar musim tanam tidak hilang terlalu lama. Ketika sawah berhenti berproduksi, otomatis roda ekonomi keluarga ikut tersendat. Karena itu, warga memilih memulihkan lahan secepat mungkin.

Hamparan sawah pascarehabilitasi di Jorong Batu Palano, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, usai dipanen pada Senin, 25 Mei 2026. Lahan yang sempat tertimbun material pasir akibat galodo pada akhir 2025 kini kembali produktif berkat gotong royong para petani dan pemerintah setempat. Dok. Dharma Harisa


Hal itu turut diakui Melati, 45 tahun, petani dari Kelompok Tani Sejuk dan Damai. “Kami tidak mau sawah terlalu lama tertimbun. Habis bencana langsung diperbaiki, walaupun sambil mencari biaya sendiri,” ucapnya.

Ia menunjuk area yang sebelumnya tertutup pasir tebal. Kini sebagian padinya sudah dipanen. “Sejak groundbreaking Januari, empat bulan kemudian sudah panen,” ujarnya.

Melati tergabung dalam Kelompok Tani Sejuk dan Damai. Anggotanya sebanyak 27 petani. Luas sawah yang mereka rehabilitasi mencapai 35 hektare. Adapun sawah milik Melati termasuk kategori rusak ringan.

Di sejumlah titik, Satgas PRR menerjunkan ekskavator untuk membersihkan endapan lumpur dan pasir. Selanjutnya, warga bergotong royong meratakan tanah, memperbaiki pematang, dan memastikan aliran air kembali normal. “Tidak bisa hanya mengandalkan ekskavator. Warga juga ikut mengerjakan,” ujar Melati.

Endapan pasir yang mereka kumpulkan lalu dijual untuk menambah pembiayaan rehabilitasi sawah secara mandiri. “Sewaktu sawah belum bisa digarap, kami rata-rata mengangkat atau mengeluarkan pasir dari lahan. Ada yang bisa dijual pasirnya,” ucapnya.

Keterlibatan warga menjadi salah satu faktor penting percepatan rehabilitasi sawah di Solok. Setelah timbunan besar diangkat alat berat, petani melanjutkan pekerjaan secara manual hampir setiap hari selama berminggu-minggu.

Selain bantuan alat berat, pemerintah pusat juga memberi bantuan rehabilitasi sebesar Rp 4,5 juta per hektare untuk sawah rusak ringan. Bantuan itu digunakan petani untuk biaya alat berat dan pengolahan lahan. Selain itu, tersedia pula bantuan biaya olah lahan sekitar Rp 900 ribu per hektare.

Menurut Melati, bantuan pemerintah datang relatif cepat. Bencana terjadi pada akhir November 2025, sedangkan bantuan mulai turun pada pertengahan Januari 2026. “Perhatian pemerintah termasuk cepat. Warga juga cepat tanggap karena ekonomi masyarakat di sini memang bertani,” katanya.

Kecepatan penanganan itu membuat sebagian lahan kembali bisa ditanami hanya dalam waktu sekitar satu bulan. Awal Februari 2026, petani mulai menanam kembali. Dua bulan kemudian, panen perdana mulai dilakukan.

Bagi warga Salayo, panen pertama itu menjadi penanda bahwa sawah mereka kembali hidup. Semangat petani Solok memulihkan lahan dalam waktu singkat kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi warga dan pemerintah dapat mempercepat pemulihan pertanian di daerah terdampak bencana.

Diketahui, menurut data Satgas PRR, total sawah terdampak di Kabupaten Solok mencapai 2.205 hektare. Sebanyak 1.247 hektare di antaranya masuk kategori rusak ringan dan lebih dari 700 hektare rusak berat. Hingga pertengahan Mei 2026, sekitar 1.323 hektare sawah di daerah itu sudah kembali memasuki masa tanam.  (*)

  • Related Posts

    'El Loco' Argentina menghadapi pemberontakan Uruguay menjelang Piala Dunia

    Marcelo Bielsa sangat dihormati sebagai pionir dalam dunia kepelatihan, namun metodenya yang tidak lazim berisiko merusak peluang Uruguay meraih Piala Dunia bahkan sebelum turnamen dimulai, dan muncul rumor mengenainya di…

    Sapi Kurban Prabowo dari APBN, Habiburokhman: Tidak Salah

    KETUA Komisi III DPR Habiburokhman menyatakan penggunaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk penyaluran 1.098 ekor sapi untuk Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tidak menyalahi aturan. Secara total, alokasi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *