Berpendar Cahaya Pendidikan dari Timur

INFO TEMPO – “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Prabowo untuk perhatiannya karena sekolah kami mendapatkan dana revitalisasi tahun 2025. Terima kasih karena rintihan dan keluhan kami akhirnya didengar. Rindu kami Bapak dapat menginjakkan kaki di sekolah ini.”

Dari ujung Alor, Nusa Tenggara Timur, siswa SMA Negeri 3 Kalabahi, Ferona Keren Balol menulis surat untuk Presiden Prabowo Subianto. Pada secarik kertas, Ferona menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya menyeka keringat dan air mata di sekolah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Cerita tentang keringat dan air mata yang dimaksud Ferona adalah suasana belajar di kelas yang tidak nyaman karena berisik dari ruang sebelah yang hanya disekat tripleks tipis. Dinding bangunan sekolah juga rapuh dan atapnya tak mampu melindungi para siswa dari panas terik matahari yang membuat mereka “mandi keringat” saat belajar.

“Mimpi kami akhirnya terkabul. Ruangan baru, meja baru, kursi baru, semuanya baru,” tulis Ferona. “Semangat yang baru untuk menggapai mimpi hari depan dan harapan.”

Di Kalimatan Tengah, ada sebuah papan yang dibawa dengan susah payah ke SDN Tanjung Pusaka 1, Pulang Pisau. Menempuh 2 jam perjalanan darat dan dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Kahayan menggunakan perahu kelotok selama 1 jam.

Sampai di sekolah, para siswa menyambut antusias kedatangan Papan Interaktif Digital (PID) itu. Mereka berbaris mengiringi tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Tengah yang menggotong papan tersebut. Setelah terpasang, para siswa takjub ketika ujung jari mereka mampu menorehkan garis pada permukaan papan yang menyala. Papan ini menjadi menjadi gerbang awal pembelajaran yang lebih bermakna di ruang kelas dan pemantik semangat untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meninjau realisasi program Revitalisasi Sekolah Terdampak Bencana di SD Negeri 8 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Selasa, 10 Maret 2026. DOK. DITJEN PAUD DIKDAS PNFI KEMENDIKDASMEN

Curhat Forona dan kehadiran PID di sekolah menjelma menjadi harapan jutaan siswa yang pada akhirnya dapat belajar dengan aman dan nyaman. “Revitalisasi satuan pendidikan kami fokuskan pada sekolah terdampak bencana, daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta sekolah yang mengalami kerusakan berat, sebagai upaya memastikan seluruh peserta didik dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan layak,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti menjelaskan urgensi revitalisasi satuan pendidikan karena tingginya kerusakan sarana dan prasarana sekolah, baik ruang kelas, fasilitas sanitasi tidak layak, hingga laboratorium yang kurang memadai. “Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas lingkungan belajar melalui renovasi, pembangunan baru, dan penyediaan fasilitas, agar proses belajar mengajar menjadi aman dan nyaman” ucapnya. Adapun perangkat PID hadir untuk mendukung pemerataan pendidikan dan pembelajaran inklusif mengingat masih rendahnya literasi, numerasi, dan disparitas akses guru-murid terhadap bahan dan media ajar/ belajar bermutu antarwilayah dan antarsekolah.

SD Inpres Naimata, Kupang, Nusa Tenggara Timur. DOK. DITJEN PAUD DIKDAS PNFI KEMENDIKDASMEN

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, serta Pendidikan Nonformal dan Informal, Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menjelaskan, revitalisasi sekolah di wilayah 3T dan Indonesia Timur memiliki makna yang sangat strategis. “Setiap ruang kelas yang dibangun, setiap toilet dan sanitasi yang diperbaiki, setiap perpustakaan dan ruang UKS yang dihadirkan, adalah bagian dari upaya besar menghadirkan keadilan pendidikan bagi anak-anak Indonesia,” katanya. “Revitalisasi satuan pendidikan adalah bukti bahwa negara hadir sampai ke ruang-ruang kelas terjauh. Di wilayah 3T dan Indonesia Timur, pembangunan sekolah bukan sekadar memperbaiki bangunan, tetapi memastikan anak-anak dapat belajar di tempat yang aman dan nyaman.”

Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, PNFI, Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. DOK. DITJEN PAUD DIKDAS PNFI KEMENDIKDASMEN

Melalui skema swakelola, menurut Gogot, revitalisasi sekolah dapat menggerakkan partisipasi masyarakat. Sekolah diberi ruang untuk membangun dengan transparan dan akuntabel, didampingi tenaga profesional, serta melibatkan warga sekitar agar manfaatnya tidak hanya dirasakan di ruang kelas, tetapi juga oleh ekonomi lokal. “Kami ingin memastikan anak-anak di Indonesia Timur dan wilayah 3T tidak tertinggal dalam memperoleh layanan pendidikan bermutu. Revitalisasi sekolah adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan wajah baru pendidikan Indonesia.”

Revitalisasi dan digitalisasi sekolah menjangkau daratan hingga kepulauan, memastikan ruang belajar yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas. Karena pemerataan pendidikan bukan sekadar wacana. Ini langkah nyata untuk masa depan anak-anak Indonesia. Mari kawal bersama agar semakin banyak ruang belajar yang diperkuat di seluruh negeri.

Infografis revitalisasi sekolah Indonesia Timur dan daerah 3T dalam angka. Dok. DITJEN PAUD

(*)

  • Related Posts

    Kejagung Mulai Sidik Dugaan Manipulasi Ekspor Komoditas Sawit

    Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami kasus dugaan manipulasi harga ekspor atau transfer pricing pada komoditas minyak sawit mentah alias Crude Palm Oil (CPO). Kasus ini disebutkan telah naik…

    Waka Komisi III DPR Dorong Investigasi Total Akar Masalah Blackout Sumatera

    Jakarta – Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim), Irjen Nunung Syaifuddin, memastikan tidak ada sabotase dalam insiden mati listrik massal atau blackout di sejumlah wilayah Sumatera. Meski demikian, Wakil Ketua…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *