Komisi I DPR Minta 9 WNI Korban Kekerasan Israel Dapat Pendampingan Psikologis

Jakarta

Wakil Ketua Komisi I Dave Laksono mengecam aksi Israel yang menendang dan menyetrum sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla yang ditangkap. Dave meminta pemerintah memastikan para WNI mendapat pendampingan psikologis usai mengalami penangkapan dalam misi kemanusiaan tersebut.

“Kami memahami bahwa pengalaman penangkapan tersebut meninggalkan tekanan fisik maupun psikologis yang tidak ringan. Oleh karena itu, Komisi I DPR RI mendorong pemerintah untuk tidak hanya memastikan kepulangan mereka dengan aman, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis yang menyeluruh,” kata Dave kepada wartawan, Sabtu (23/5/2026).

“Pendampingan ini mencakup dukungan emosional, konseling profesional, serta pemulihan sosial agar para WNI dapat mengatasi trauma, memulihkan rasa aman, dan kembali menjalani kehidupan dengan penuh kepercayaan diri,” sambungnya.

Meski begitu, Dave mengaku bersyukur atas kepulangan para WNI tersebut. Menurutnya, kabar pembebasan itu menjadi hal yang melegakan bagi keluarga maupun masyarakat Indonesia.

“Komisi I DPR RI menyampaikan rasa syukur dan kelegaan atas pembebasan WNI yang sebelumnya mengalami penangkapan dalam misi kemanusiaan,” ujarnya.

Dave menegaskan Komisi I DPR akan terus mengawal perlindungan WNI di luar negeri. Dia mengatakan diplomasi yang konsisten dan kerja sama dengan mitra internasional penting untuk memastikan keselamatan WNI.

“Kami percaya melalui diplomasi yang konsisten, kerja sama dengan mitra internasional, serta dukungan sistem pemulihan yang komprehensif, Indonesia dapat memastikan keselamatan warganya sekaligus memperkuat peran bangsa dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di tingkat global,” tuturnya.

Sebelumnya, sebanyak 9 WNI relawan Global Sumud Flotilla 2026 telah dibebaskan setelah sebelumnya ditangkap oleh tentara Israel. Seorang relawan Rahendro Herubowo, menceritakan momen mencekam saat dirinya bersama relawan lain ditahan tentara Israel.

“Saya mengalami kekerasan ditendang mungkin tiga-empat kali di bagian depan, di belakang saya diinjak, dan terakhir disetrum,” kata Rahendro atau Heru, yang juga jurnalis iNewsTV, dalam video singkat dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Jumat (22/5).

Heru mengaku sampai saat ini masih mengalami kesakitan di bagian atas pinggang dan dada. Bahkan rasa sakitnya semakin kuat kalau dirinya batuk atau mengangkat tangan.

“Jadi sekarang nih saya kalau batuk sakit di sini ketarik, angkat tangan juga ketarik. Mudah-mudahan nggak ada apa-apa ya, kita periksa di sini, kalau sekiranya di sini masih harus ada pemeriksaan lanjutan di RS Indonesia lah kita periksa lagi,” jelas dia.

(amw/zap)

  • Related Posts

    Diplomasi AS-Iran terus berlanjut, namun perbedaan 'signifikan' masih tetap ada dalam kesepakatan

    Pembaruan langsung, Serangan Israel di Lebanon telah mencatat sedikitnya 3.111 orang sejak 2 Maret, dan 9.432 orang terluka, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

    Terpopuler: Nasib Dirjen Bea Cukai Hingga DSI Jadi BUMN

    SEJUMLAH berita kanal Nasional Tempo yang terbit pada Jumat, 22 Mei 2026, menjadi perhatian pembaca. Berita tersebut antara lain soal nasib Direktur Jenderal Bea Cukai yang terseret kasus suap. Ada pula soal TNI…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *