KEPALA Penerangan Satuan Tugas Komando Operasi Harus Berhasil Maksimal atau Koops Habema Letnan Kolonel Wirya Arthadiguna mengutuk keras tindakan milisi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) yang menembak mati 8 pendulang emas di Yahukimo.
Dia mengatakan, tudingan TPNPB yang menyebut delapan orang itu merupakan intelijen militer merupakan propaganda yang acapkali digunakan untuk menutupi tindakan kejahatan milisi terhadap warga sipil, termasuk orang asli Papua. “Delapan orang itu warga sipil, bukan aparat keamanan seperti yang dituduhkan,” kata Wirya dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dia melanjutkan, untuk mencegah terjadinya aksi kekerasan, Koops Habema saat ini terus menggencarkan patroli di sejumlah titik rawan di wilayah Yahukimo. Situasi keamanan di Yahukimo berstatus rawan, namun tetap terkendali.
Koops Habema, kata Wirya, bersama personel gabungan hingga saat ini juga terus melakukan proses evakuasi jasad korban dengan melibatkan dukungan armada utara untuk menjangkau lokasi yang berada di wilayah pedalaman. Koops Habema juga terus melakukan perburuan terhadap pelaku yang ditengarai merupakan kelompok milisi TPNPB Kodap XVI Yahukimo pimpinan Kopitua Heluka dan Dejang Heluka. “Pengejaran masih berlangsung. Peningkatan keamanan di Yahukimo telah kami jalankan,” ucapnya.
Sebelumnya, delapan orang pendulang emas di Korowai, Kabupaten Yahukimo ditembak mati milisi TPNPB dengan alasan melanggar ketentuan zona perang hingga merupakan intelijen militer yang menyamar.
Juru bicara markas pusat TPNPB Sebby Sambom mengatakan, tindakan tersebut diambil dengan pertimbangan lain, yakni apa yang dilakukan para pendulan emas telah menyebabkan ekosistem alam di Papua rusak. “Ini juga balasan kami atas tindakan penembakan yang dilakukan TNI-Polri kepada 2 milisi TPNPB sebelumnya,” ujar Sebby melalui pesan suara WhatsApp, Jumat.
TPNPB, dia melanjutkan, juga mengingatkan TNI-Polri untuk segera meninggalkan Papua dan tidak lagi melakukan penyamaran menjadi warga sipil untuk mencari lokasi keberadaan pos milisi. “Selama TNI masih di Papua dan melakukan kekerasan terhadap orang asli Papua, kami memastikan akan melakukan penembakan kepada mereka yang bukan orang asli Papua,” ucapnya.






