Walid Daqqa, tahanan Palestina yang mengubah puluhan tahun penjara Israel menjadi momen berpikir, kreativitas, dan cinta.
Ini adalah kisah Walid Daqqa, salah satu tahanan Palestina yang paling lama mendekam di penjara-penjara Israel, diceritakan oleh keluarga dan dalam rekaman suara yang ia buat di balik jeruji besi.
Dari seorang anak laki-laki yang berpikiran tajam di Palestina tahun 1948 hingga seorang penyelenggara PFLP bawah tanah yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, Daqqa mengubah selnya menjadi ruang kelas, sebuah wadah pemikir dan, akhirnya, tempat pernikahan ketika ia menikahi Sanaa Salama di dalam penjara Ashkelon.
Melalui kesaksian keintiman dari keluarga, mantan rekan kerja dan pengacaranya, film ini mengeksplorasi gagasan Walid tentang “waktu paralel” – hidup baik di bawah “berton-ton beton” maupun di luar tembok. Kisahnya menceritakan penyelundupan spermanya, kelahiran putri, Milad, dan pesan kuatnya kepadanya: benci, bukan manusia. Ketika penyakit kanker menyerangnya dan Israel menolak melepaskannya, menyanyikan lagu terakhir Milad, “Kebebasan untuk tahanan kami. Untuk ayah saya”, menggemakan perjuangan yang melampaui kehidupan Walid Daqqa.





