JURNALIS Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, dilaporkan hilang kontak di perairan dekat Gaza setelah kapal logistik kemanusiaan yang ditumpanginya, Ozgurluk, dicegat oleh militer Israel pada Senin, 18 April 2026. Kapal Ozgurluk menjadi bagian dari konvoi Global Freedom Flotilla 2026 yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan guna membuka blokade Gaza.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Produser TV Tempo Dheayu Jihan mengatakan komunikasi terakhir dengan Andre tercatat pada Minggu malam sekitar pukul 22.42 WIB. Dalam kontak tersebut, Andre mengabarkan posisinya yang sudah mulai memasuki zona merah.
“Semalam itu terakhir berkontak dia mengirim titik koordinat posisinya, tapi saya tidak bisa berhitung seberapa jauh posisi dia ke tujuannya di Tepi Barat Gaza itu,” tutur dia saat dihubungi pada Senin, 18 Mei 2026.
Nomor telepon Andre terdeteksi masih aktif hingga Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB. Pihak redaksi di Jakarta mencoba mengirimkan pesan teks untuk memantau kondisi Andre.
Pesan tersebut terkirim dengan status centang dua, namun tidak mendapatkan respons. Ponsel Andre kemudian dipastikan sudah tidak aktif saat pesan berikutnya yang dikirimkan pada pukul 14.30 WIB hanya bercentang satu.
Menurut Jihan, sejak saat itu tidak ada kabar lagi mengenai keberadaan Andre sampai akhirnya redaksi mendapatkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) pada pukul 21.15 WIB.
“GPCI melaporkan bahwa kapal yang ditumpangi Andre mengalami pencegatan oleh militer Israel bersama 24 kapal lainnya yang tergabung dalam konvoi tersebut saat berada sekitar 250 mil laut dari Gaza,” kata dia.
Lebih lanjut, Jihan menjelaskan perjalanan Andre meliput misi kemanusiaan untuk Gaza dimulai sejak 29 April 2026. Andre pertama terbang dari Jakarta menuju Istanbul, Turki. Dari Istanbul, ia melanjutkan perjalanan darat selama 12 jam ke Pelabuhan Marmaris. Di pelabuhan itu, keberangkatan kapal sempat tertunda berkali-kali akibat persoalan keamanan dan ketatnya penyaringan relawan.
Dalam prosesnya, Andre semula terancam batal ikut mengirim bantuan hingga ke Gaza sebab namanya tak masuk dalam daftar relawan yang akan ikut berlayar. Namun, setelah negosiasi panjang, Andre akhirnya mendapatkan satu slot kursi untuk ikut berlayar bersama kapal Ozgurluk.
Di kapal tersebut, Andre berangkat bersama dua jurnalis Indonesia dari Republika dan Inews, Thoudy Badai Rifan Billah dan Rahendro herubowo. Kapal ini dilaporkan mulai berlayar pada Kamis, 12 Mei 2026, sore waktu setempat.
Memasuki hari keenam pelayaran, kata Jihan, situasi di atas kapal mulai menegang seiring posisi mereka yang semakin mendekati zona merah perairan Gaza. Pada Sabtu, 16 Mei 2026 atau dua malam sebelum insiden pencegatan terjadi, Andre memberikan informasi kepada tim Tempo di Jakarta bahwa kapalnya sudah masuk dalam protokol darurat interception (antisipasi penyergapan).
Adapun Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati menyatakan total ada 450 relawan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Dari jumlah itu, sembilan di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang berasal dari beberapa lembaga kemanusiaan dari Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, dan juga jurnalis dari Republika, Inews, dan Tempo.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF). Kementerian pun mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan.
“Kami akan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang kepada Tempo, Senin malam, 18 Mei 2026.






