INFO TEMPO – Penanganan banjir di Aceh kini mulai memasuki fase transisi menuju pemulihan. Salah satu indikatornya terlihat dari rampungnya pemulihan sungai di sejumlah titik terdampak bencana.
“Sekarang ini sebetulnya kami sudah melewati masa tanggap darurat, sekarang masuk ke transisi menuju pemulihan,” kata Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian usai menggelar rapat koordinasi bersama Ketua Dewan Pengarah Satgas PRR yang juga Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno di Kantor Kemendagri pada Selasa, 12 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Laporan Balai Wilayah Sungai Sumatera I per 18 Mei 2026 mencatat progres tanggap darurat di delapan lokasi di Kabupaten Pidie telah mencapai 100 persen. Penanganan dilakukan melalui pemasangan bronjong (perakitan kotak anyaman kawat yang diisi batu untuk menahan erosi dan longsor), normalisasi sungai, hingga pemasangan boulder dan steel sheet pile di sejumlah titik rawan erosi dan abrasi.
Di bawah koordinasi Satgas PRR, Kementerian Pekerjaan Umum dan Adhi Karya telah melakukan pemasangan bronjong di Sungai Krueng Baro sepanjang 522 meter di Desa Meunasah Kumbang, Pulo Pisang, dan Desa Cot Seutui, kemudian di Sungai Krueng Tiro, Desa Blang Keudah, dengan panjang penanganan mencapai 234 meter. Di desa dan sungai yang sama, pemerintah juga melakukan normalisasi sungai sepanjang 2 kilometer yang saat ini progres pengerjaannya telah mencapai 100 persen.
Adapun progres yang telah rampung juga antara lain pemasangan boulder atau batu berukuran besar untuk menahan abrasi di Desa Adan Rambot, Sungai Krueng Tiro, sepanjang 74 meter. Selain itu, pemasangan steel sheet pile atau baja struktural dengan sisi saling mengunci yang dipancang ke dalam tanah untuk membentuk penghalang juga telah selesai dilakukan di Desa Lam Kuta, Krueng Tiro, sepanjang 90 meter.
Progres pemulihan sungai ini memang menyisakan sejumlah lokasi yang masih dalam tahap pengerjaan. Salah satunya adalah pemasangan bronjong di Sungai Krueng Tiro sepanjang 910 meter yang melintasi Desa Simbe, Desa Reubat, Desa Tiba Masjid, dan Desa Daya Cot.
Saat ini tercatat progres di Desa Tiba Masjid sudah mencapai 82 persen. Sementara Desa Simbe berstatus material telah tersedia di lokasi, Desa Reubat masih dilakukan pengaliran sungai untuk keperluan pemasangan, dan Desa Daya Cot dengan pengerjaan baru 1 persen.
Metode penanganan lainnya yang juga belum rampung adalah pembersihan dan perbaikan Bendungan Tiro sepanjang 58 meter. Saat ini progres pengerjaannya telah mencapai 32 persen. Selain itu, pemasangan boulder sepanjang 95 meter di Desa Adan Jeumpa, Sungai Krueng Tiro, juga masih dalam tahap pengerjaan.
Adapun pemulihan sungai menjadi sektor prioritas karena berkaitan langsung dengan pemulihan kehidupan masyarakat, penguatan aktivitas ekonomi daerah, serta memperbaiki tata air, mengeruk sedimentasi, dan memperkuat tebing agar mencegah banjir susulan. Karena itu, penanganan sungai bersama infrastruktur lain seperti jalan, jembatan, perdagangan, pertanian, hingga hunian tetap masuk dalam Rencana Induk (Renduk) yang saat ini tengah berproses menjadi Peraturan Presiden atau Perpres. (*)






