PASANGAN suami istri asal Bandung menggelar nonton bareng film Pesta Babi setelah sempat terkendala intimidasi sebelum pemutaran di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 16 Mei 2026.
Albiansyah dan Rita, pasangan konten kreator dari Kota Bandung, menggelar nobar film dokumenter besutan sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cipry Paju Dale tersebut di salah satu kafe di Bandung.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“(Kami) berusaha cari tempat baru. Alhamdulillah ketemu dan owner-nya support,” kata Rita kepada Tempo, Ahad, 17 Mei 2026.
Rita langsung mencari tempat baru setelah kafe yang sebelumnya bersedia, tiba-tiba membatalkan acara karena mendapat intimidasi dari orang tak dikenal. Lewat jejaringnya, Rita menemukan salah satu kafe yang juga sering dipakai menonton bareng laga sepak bola Persib Bandung.
Rita pun memastikan ke kafe agar tidak ada pembatalan mendadak lagi. Setelah berdiskusi, pemilik kafe setuju nobar digelar di tempatnya. “Setelah menunggu feedback, hasilnya diizinkan dan alhamdulillah lancar banget sampe akhir,” ujarnya.
Seusai acara nobar, kata Rita, penyelenggara membuka ruang diskusi santai dan peserta aktif merespons dengan bermacam-macam emosi. Mereka ada yang menangis, sedih, kecewa, dan tersentuh. Bahkan, ada salah satu penonton termuda berusia kelas enam selolah dasar ikut memberi tanggapan.
Sebelum acara, Rita dan Albiansyah memastikan keamanan tempat dan peserta. Mereka tidak mempublikasikan tempat dan waktu penjadwalan ulang. Bahkan, demi keamanan, pasangan ini juga meminta ke seluruh peserta yang berjumlah 50 orang tidak mengunggah apa pun ke media sosial sampai acara selesai.
“Saat acara selesai nobar dipersilakan untuk posting di sosmed,” ujarnya.
Rita dan Albiansyah tidak menyangka antusiasme orang yang ingin ikut nobar. Ia mengatakan ada ratusan orang yang mau ikut. Namun Rita membatasi kuota 50 orang saja.
Demi keamanan, Rita juga menyaring 50 peserta yang mendaftar di WhatsApp. Ia menyediakan presensi saat di lokasi nobar. Sebanyak 50 peserta diminta menuliskan nama, alamat, dan nama instagram. Rita kemudian melakukan skrining profil instagram.
“Karena bukan hal mudah memfasilitasi dengan warga Bandung yang memang belum kenal sama sekali, tapi ada sebagian yang memang peserta teman kami berdua,” tuturnya.
Albiansyah bercerita, awalnya ia berencana menggelar nobar terbatas di sebuah kafe pada Sabtu, 16 Mei 2026. Namun rencana itu batal setelah pemilik tempat mengklaim dilarang menyelenggarakan pemutaran film tersebut.
Rencana penyelenggaraan nobar ini bermula dari rasa penasaran Albiansyah terhadap maraknya pemberitaan mengenai pelarangan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Ia sempat mencari informasi agenda pemutaran film di Bandung melalui akun Instagram Indonesia Baru, namun mendapati dirinya telah melewatkan jadwal yang ada.
Dorongan kemudian datang dari warganet yang membanjiri kolom komentar akun Instagram miliknya, meminta agar ia menggelar nobar sendiri.
“Akhirnya kepikiran, bikin sendiri saja. Daripada susah ikut agenda orang, ya sudah diputuskan bikin sendiri,” Sekarang saya masih cari tempat baru,” kata Albiansyah saat dihubungi pada Kamis, 14 Mei 2026.
Ia kemudian mencari lokasi dan mendapatkan persetujuan dari pemilik kafe untuk menggelar acara. Poster digital nobar diunggah ke media sosial pada Rabu malam, 13 Mei 2026.
Awalnya, Albiansyah hanya menargetkan sekitar 30 peserta. Namun, respons publik melampaui ekspektasi. “Belum dua jam saya tinggal handphone, sudah ada 35 orang yang daftar,” katanya.
Ia lalu berkoordinasi dengan pemilik tempat yang menyebut kapasitas kafe dapat menampung hingga 50 orang. Namun, tak lama kemudian, pemilik tempat menghubunginya kembali dan menyampaikan larangan untuk memutar film tersebut. “Dia tidak menjelaskan siapa yang melarang atau bagaimana,” ujar Albiansyah.






