Tindaklanjuti Arahan Prabowo, BRIN-Rosatom Perkuat Kerja Sama Nuklir Damai

Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menerima kunjungan Direktur Jenderal Rosatom Rusia Alexey Likhachev dalam rangka mendalami potensi pengembangan nuklir baik untuk energi maupun non energi. Pertemuan ini tindaklanjut hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto yang lebih dulu menerima Likhachev kemarin di Istana, Jakarta.

Arif menjelaskan bahwa BRIN memang ditugaskan untuk melakukan penjajakan kerjasama pengembangan teknologi nuklir. Rintisan kerjasama RI dengan Rosatom ini sudah dimulai sejak tahun 2006.

“Ini merupakan upaya komprehensif untuk mendalami berbagai opsi teknologi maju bagi masa depan. BRIN bertugas memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi,” kata Arif, dalam keterangannya, Rabu (13/5/2025).

Arif mengatakan fokus utama kerja sama akan diarahkan pada penguatan lebih lanjut Kelompok Kerja Gabungan (Joint Working Group) untuk penyiapan implementasi energi nuklir berskala besar. Ruang lingkup penjajakan ini mencakup pengembangan peta jalan (roadmap), studi tapak, pemilihan teknologi reaktor, hingga pendalaman terkait siklus bahan bakar nuklir.

Selain berfokus pada penjajakan energi berbasis nuklir, kolaborasi strategis ini turut menyasar sejumlah bidang lainnya. Salah satunya, revitalisasi fasilitas riset, modernisasi fasilitas reaktor riset GA Siwabessy di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong.

“Hal ini juga mencakup pengelolaan limbah radioaktif dan fabrikasi elemen bakar reaktor,” kata Arif.

Lalu, pengembangan teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR). Teknologi reaktor jenis ini dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen, desalinasi air, dan keperluan industri lainnya, selain menghasilkan listrik.

Kemudian pengembangan radioisotop untuk diaplikasikan pada sektor medis dan industri. Ada juga pengembangan teknologi iradiasi dan pemanfaatannya di bidang pangan, medis, serta industri.

“Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi nuklir. Upaya ini akan melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek),” lanjut Arif.

Arif mengatakan penjajakan teknologi ini berjalan progresif. Ia memberikan catatan tegas bahwa keberhasilan adopsi energi atom di Tanah Air tidak hanya bergantung pada kecanggihan infrastruktur semata.

“Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, namun pelibatan disiplin ilmu sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi dampak sosial-ekonomi, serta memastikan bahwa setiap tahap penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan humanis,” tegasnya

Diketahui, kemitraan teknis antara Indonesia dan Rusia sejatinya memiliki rekam jejak historis yang solid. Implementasi di tingkat teknis telah berjalan dengan sukses, mencakup kolaborasi antara BATAN dan Rosatom pada 2015, BAPETEN dan Rostechnadzor pada 2017, serta Poltek Nuklir (STTN) dan Rosatom Technical Academy pada 2020.

“Sebagai wujud komitmen nyata, BRIN akan melanjutkan dan memperkuat kerja sama tersebut,” ujarnya. (eva/dek)

  • Related Posts

    Bagaimana badan donor AS dijual untuk pelatihan militer Israel

    Bagaimana jenazah yang disumbangkan dari universitas-universitas AS berakhir di pelatihan bedah militer Israel. University of Southern California telah menerbitkan badan-badan yang disumbangkan untuk penelitian ilmiah dan pendidikan kepada Angkatan Laut…

    Maling Motor di Bekasi Modus Tuduh Korban Pelaku Pemukulan Ditangkap

    Bekasi – Tiga orang anggota komplotan pencuri atau maling motor modus menuduh korban pelaku pemukulan ditangkap Polres Metro Bekasi. Dalam aksinya, para pelaku mengincar pemotor di bawah umur jadi sasarannya.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *