KEMENTERIAN Kesehatan akan menyiagakan 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi untuk mendeteksi penyebaran hantavirus tipe HFRS di Indonesia. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, mengatakan Kemenkes bergerak cepat setelah mendapat informasi kontak erat dari klaster hantavirus kapal pesiar MV Hondius.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kemenkes telah menyiapkan 198 rumah sakit jejaring pengampuan infeksi emerging demi mengantisipasi wabah hantavirus, termasuk 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging (PIE) di 20 provinsi di Indonesia.
“Tujuan daripada rumah sakit sentinel ini adalah aktif melakukan surveillance. Jadi jika ada pasien masuk di rumah sakit tersebut, kami melakukan pengamatan bahwa kuning itu bukan hanya karena penyakit hati, bukan hanya karena leptospirosis,” kaya Andi Saguni dalam konferensi persnya pada Senin, 11 Mei 2026.
Andi menjelaskan salah satu gejala yang perlu diwaspadai, yakni munculnya warna kuning pada tubuh pasien (jaundice). Sebab gejala kuning ini seringkali mirip dengan penyakit hati atau leptospirosis.
Menurut Andi, penggunaan tes PCR menjadi kunci utama dalam membedakan jenis virus yang menyerang pasien. Ia memastikan alat diagnostik yang tersedia saat ini cukup spesifik untuk mendeteksi berbagai jenis virus hanta.
“Pemeriksaan PCR ini merupakan pemeriksaan yang kita butuhkan. Karena PCR ini jika memang positif, baik tipe HFRS maupun tipe HPS, itu kan harus diketahui strain-nya lebih lanjut melalui pemeriksaan tersebut,” ujarnya.
Adapun jenis virus hanta yang terdeteksi di Indonesia berbeda dengan kasus kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Spanyol.
Andi menjelaskan virus hanta yang terdeteksi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain seoul virus. Sedangkan kasus virus hanta di kapal pesiar MV Hondius adalah tipe Hanta pulmonary Syndrome (HPS) dengan strain andes virus.
Pemerintah langsung meningkatkan kewaspadaan setelah mendapat informasi adanya WNA yang beromisili di Jakarta setelah berkontak erat dengan kasus positif virus hanta di MV Honsius.
Andi mengatakan International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris mengumumkan WNA berinisial KE merupakan kontak erat kasus positif hantavirus di kapal pesiar MV Hondius dan berdomisili di Jakarta.
“Pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB, IHR NFP Inggris menotifikasi ke Indonesia terkait satu orang kontak erat yang berdomisili di Indonesia,” kata Andi.
WNA laki-laki berusia 60 tahun itu sempat berada satu hotel dan satu penerbangan dengan pasien perempuan berusia 69 tahun yang kemudian meninggal akibat hantavirus. Andi memaparkan KE berada di kapal MV Hondius sejak akhir Maret hingga April 2026. Ia turun di Saint Helena pada 24 April dan menginap di hotel yang sama dengan pasien terkonfirmasi sebelum terbang menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dan melanjutkan perjalanan ke Zimbabwe.
Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi sehari setelah notifikasi diterima. Hasilnya, WNA tersebut tidak menunjukkan gejala virus hanta. Andi menuturkan pemeriksaan PCR dari lima spesimen, yakni serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan darah lengkap juga menunjukkan hasil negatif.
“Hasil pemeriksaan PCR tersebut negatif hantavirus. Kontak erat ini tinggal sendiri, komunikasi dengan orang lain itu tidak ada, di samping pemahamannya sudah bagus,” ujar Andi.
Kendati demikian, Kemenkes tetap melakukan pemantauan dan karantina terhadap KE di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.






