Pemerintah Terapkan Label Nutri-Level pada Minuman Manis

KEMENTERIAN Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai menerapkan sistem label nutri-level untuk produk minuman berpemanis. Kebijakan ini bertujuan mempermudah masyarakat dalam mengidentifikasi kandungan nutrisi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dengan kebijakan ini masyarakat diharapkan bisa mengontrol konsumsi gula secara mandiri, sehingga terhindar dari risiko diabetes, hipertensi, dan berbagai penyakit lainnya. “Harapannya, masyarakat bisa teredukasi dan memilih mana yang baik dikonsumsi dan mana yang harus dikurangi,” kata dia dalam Peluncuran Label Gizi di Gedung Sumber Daya Manusia Kesehatan, Jakarta, pada Selasa, 14 April 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Nutri-Level merupakan sistem klasifikasi makanan atau minuman berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak. Budi menyebutkan, pada tahap awal pemerintah hanya akan mengatur penerapan label nutri-level ini untuk produk minuman saja. 

Budi menjelaskan, pemerintah membagi tingkat kandungan gula produk minuman ke dalam empat level yang ditandai dengan warna dan huruf tertentu. Di antaranya, level A (warna hijau tua) untuk minuman sangat sehat dengan kadar gula kurang dari kurang dari 1 gram alias tanpa pemanis tambahan.

Kemudian, level B (hijau muda) untuk kategori sehat yakni kadar gula kurang 1-5 gram, level C (kuning) untuk kategori kurang sehat dengan kadar kandungan gula 5-10 gram, dan level D (merah) untuk kategori tidak sehat dengan kadar gula lebih dari 10 gram.

Budi mengatakan pelabelan ini berlaku untuk minuman olahan kemasan maupun siap saji. Untuk minuman kemasan, penerapan pelabelan kandungan gula akan diawasi diatur lebih detail oleh BPOM sebagai penanggung jawab produk olahan. Sementara untuk makanan siap saji akan dipantau langsung oleh Kementerian Kesehatan. 

Dia menuturkan kebijakan ini tidak serta-merta langsung dilaksanakan. Pemerintah memberikan masa transisi bagi pelaku usaha melakukan penyesuaian 1-2 tahun sampai peraturan tersebut menjadi wajib. Sebagai uji coba, kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap pada industri skala besar seperti restoran, sebelum nantinya menyasar seluruh pelaku usaha. “Jadi kami mulai bertahap karena ini lebih ke edukasi. Kami mulai dari pelaku usaha besar dulu, bukan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Untuk UMKM masih dibebaskan,” tutur Budi.

Adapun aturan penerapan label kandungan gula untuk produk minuman siap saji tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan Pada Pangan Olahan Siap Saji. Aturan ini resmi diteken pada 14 April 2026. 

Sementara itu, aturan mengenai pelabelan kandungan gula untuk produk minuman kemasan masih dalam tahap harmonisasi di Kementerian Hukum. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan aturan ini akan segera diterbitkan dan resmi berlaku begitu proses administrasi selesai. 

Pilihan Editor:  Bisakah Kadar Gula Label Pangan Mencegah Diabetes

  • Related Posts

    Kanada menghadapi seruan untuk membatalkan rencana pengurangan skema layanan kesehatan bagi pengungsi

    Toronto, Kanada – Aksi unjuk rasa telah diadakan di seluruh Kanada untuk mendesak pemerintah membatalkan rencana pengurangan program layanan kesehatan bagi pengungsi dan pencari suaka. Lusinan orang berdemonstrasi di Toronto…

    Serangan Israel menewaskan beberapa orang di kamp pengungsi Gaza

    Lewati tautanLewati ke Konten Hidup Menu navigasi berita Afrika Asia AS & Kanada Amerika Latin Eropa Asia Pasifik Timur Tengah Dijelaskan Pendapat Olahraga Video Fitur Ekonomi Hak Asasi Manusia Krisis…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *