Pakar Kesehatan UGM Imbau Masyarakat Tak Sepelekan Campak

DOSEN Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Ratni Indrawanti meminta peningkatan kasus campak harus menjadi perhatian serius. Sebab, campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan dapat memicu komplikasi berbahaya.

Sejak awal tahun hingga 23 Februari 2026, Kementerian Kesehatan mencatat ada 8.224 kasus suspek campak. Pada periode tersebut juga dilaporkan 21 kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Dari 8.000 kasus ini memang situasinya serius dan harus ditangani secara serius. Namun selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan,” kata Ratni pada Ahad, 8 Maret 2026.

Menurut Ratni, suatu kondisi disebut darurat kesehatan apabila peningkatan kasus terjadi secara cepat dan meluas hingga menimbulkan dampak serius, seperti kematian serta sulit dikendalikan tanpa respons besar dari pemerintah.

Kemenkes mencatat ada 13 KLB di enam provinsi yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Lima provinsi dengan KLB campak terbanyak berada di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Menurut Ratni, penurunan cakupan vaksinasi menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus campak. Penurunan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak fasilitas kesehatan yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi di masyarakat. Selain itu, penyebaran informasi keliru mengenai vaksin di media sosial ikut memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.

Ratni menegaskan campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian.

“Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian,” kata Ratni.

Campak juga termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Virusnya menyebar melalui udara atau droplet dan dapat bertahan di ruangan tertutup hingga sekitar dua jam setelah penderita meninggalkan lokasi tersebut. Dalam kondisi tertentu, satu penderita campak bahkan dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang di sekitarnya.

“Penularannya sangat cepat karena virus campak menyebar melalui udara. Dalam ruangan tertutup, virus ini bisa bertahan hingga dua jam dan berisiko menularkan kepada orang lain di sekitar,” kata Ratni.

Menurut Ratni, sebagian besar kasus campak di Indonesia ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas banyak pulau kecil juga menjadi tantangan dalam distribusi vaksin serta penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat.

Ia mengingatkan, jika tren penurunan imunisasi terus terjadi, dampaknya dapat sangat serius bagi kesehatan masyarakat. Selain meningkatkan jumlah anak yang tidak memiliki kekebalan, kondisi ini berpotensi memicu lebih banyak wabah serta meningkatkan angka kematian pada anak.

Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang, seperti radang otak, kejang, hingga pneumonia yang berpotensi menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang tidak mendapatkan vaksinasi.

Selain itu, seseorang yang telah sembuh dari campak  dapat mengalami kondisi yang disebut immune amnesia, yakni ketika sistem kekebalan tubuh “melupakan” sebagian perlindungan terhadap penyakit lain yang sebelumnya pernah dilawan oleh tubuh. Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terhadap berbagai infeksi lain.

Untuk mencegah penularan, Ratni menegaskan pentingnya mengikuti jadwal imunisasi campak yang diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan sederhana seperti menggunakan masker saat mengalami batuk dan pilek, mencuci tangan secara rutin, serta meningkatkan edukasi kesehatan di lingkungan keluarga. “Kita harus bersama-sama sadar. Jika sedang batuk dan pilek sebaiknya menggunakan masker, mencuci tangan, mengingatkan anak dan cucu untuk vaksin, menjaga daya tahan tubuh, serta memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Kemenkes pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur lebaran. Mobilitas masyarakat yang meningkat dan potensi kerumunan disebut akan memperbesar risiko penularan penyakit ini.

“Karena itu masyarakat perlu tetap waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap,” kata Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni dalam siaran pers pada Sabtu, 7 Maret 2026. 

  • Related Posts

    Pemerintah militer Myanmar menolak perundingan damai

    Pemimpin kudeta Min Aung Hlaing dipilih oleh parlemen sebagai presiden awal bulan ini setelah pemilu dicemooh sebagai pemilu palsu. Pemerintah Myanmar yang didukung militer telah mengundang kelompok-kelompok yang berseberangan untuk…

    permohonan bantuan hukum pro-Palestina tetap tinggi pada tahun 2025 di tengah tekanan kampus AS

    Washington, DC – tuntutan dukungan hukum terkait advokasi pro-Palestina tetap tinggi di Amerika Serikat pada tahun lalu, ketika Presiden Donald Trump mengancam aktivisme dan universitas dengan hukuman. Dalam laporan tahunan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *