Ketika Ratusan Wartawan Beseragam ala TNI di Retret PWI

SEBANYAK 160 wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengikuti retret PWI di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 29 Januari hingga 1 Februari 2026. Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir mengatakan retret itu diadakan bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan.

Ia mengklaim tujuan retret itu adalah untuk memperkuat profesionalisme wartawan. “Juga memperkuat wawasan kebangsaan,” kata Akhmad di Banten, Senin, 9 Februari 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Wartawan PWI juga belajar pendidikan dan pelatihan militer untuk menguatkan kedisiplinan. Mereka menggunakan baju loreng ala Tentara Nasional Indonesia ketika melakukan upacara dan mandapatkan materi.

“Bangun jam 4, makan jam 6, dan masuk kelas. Poinnya serba tertib dan serba teratur,” ujar Akhmad.

Ratusan jurnalis itu mendapatkan materi dari sejumlah menteri yang berasal dari pimpinan lembaga. Pemateri itu di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, serta pejabat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Koperasi, dan Kementerian Dalam Negeri.

“Semuanya memaparkan penguatan profesionalisme dan wawasan kebangsaan,” kata dia.

Akhmad melanjutkan, retret ini juga membahas materi mengenai independensi pers dan Akal Imitasi atau AI. Materi itu disampaikan oleh Nezar Patria. 

Dikutip dari situs resmi Kementerian Pertahanan, kegiatan retret PWI ini yang mengusung tema “Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas, dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional.” Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan penyelenggaraan retret merupakan upaya bersama untuk memperkuat peran insan pers di tengah dinamika masyarakat dan pesatnya perkembangan informasi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembekalan teknis, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk meneguhkan nilai-nilai kebangsaan sebagai landasan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

“Dalam konteks ini, pers yang profesional, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan menempati posisi strategis sebagai mitra negara dalam memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa,” kata Sjafrie.

  • Related Posts

    Pria di Kebumen Aniaya Istri dan Ibu Mertua hingga Tewas

    Jakarta – Seorang pria di Kebumen, Jawa Tengah, inisial SP (28) tega menganiaya istri EP (33) dan ibu mertuanya PA (52) menggunakan besi ulir hingga tewas. Pelaku dan korban sempat…

    Mengapa upaya perdamaian gagal mengakhiri konflik di Sudan?

    PBB mengatakan penggunaan drone membuat konflik menjadi lebih berbahaya. Terpecah karena pertempuran, putusnya asa akan perdamaian. Konflik selama tiga tahun di Sudan telah menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *