Pertemuan Prabowo dan Guru Besar Tanpa Sesi Dialog

GURU Besar Ilmu Politik pada Universitas Pendidikan Indonesia, Cecep Darmawan, mengatakan pertemuan antara para profesor dan pimpinan perguruan tinggi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta Pusat, tanpa sesi dialog. Ia mengatakan para guru besar dan pimpinan kampus yang datang dari berbagai daerah tidak diberikan kesempatan untuk bertanya maupun menyampaikan aspirasi kepada presiden. 

Cecep memperoleh informasi bahwa pertimbangan pertemuan dengan Presiden Prabowo tanpa dialog itu karena waktu yang terbatas. “Jadi, paparan Presiden saja,” kata Cecep kepada Tempo seusai pertemuan di Iatana, pada Kamis, 15 Januari 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia melanjutkan, dalam pertemuan itu, Presiden menjanjikan akan menggelar pertemuan secara khusus untuk menyerap aspirasi dari perguruan tinggi. “Prabowo mengatakan akan ada pertemuan berikutnya yang bisa ada dialog,” ujar Cecep

Cecep merupakan satu dari 1.200 guru besar dan pimpinan kampus yang diundang oleh Prabowo ke Istana, Kamis ini. Sebagian guru besar yang diundang menolak untuk menghadiri forum tersebut. Salah satunya Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia Adrianus Meliala.

Saat dikonfirmasi, Adrianus mengatakan tidak mengetahui soal undangan pertemuan tersebut. Namun, saat mengetahui namanya tercantum dalam daftar undangan, Adrianus mengatakan tidak akan datang di agenda tersebut.

Guru besar Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, Masduki, juga menolak memenuhi undangan itu. “Forum itu hanya seremonial, formalitas, dan menggunakan pendekatan top down atau Presiden dominan,” kata Masduki saat dihubungi, pada Rabu, 14 Januari 2026.

Dia membayangkan peserta hanya akan mendengarkan pidato dari Presiden Prabowo yang kental dengan pencitraan. Dampaknya, guru besar tak mempunyai kesempatan untuk menyampaikan kritik secara terbuka terhadap pemerintah. Masduki pun pesimistis bisa memberikan masukan kepada Prabowo di acara tersebut.

Djohermansyah Djohan, Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) serta Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, juga bersikap serupa dengan Adrianus. Keduanya juga tidak menghadiri pertemuan tersebut.

  • Related Posts

    Pembunuhan Tukang Cilok di Tangerang Dipicu Dendam, Pelaku Ayah dan Anak

    Jakarta – Polisi mengungkap motif pembunuhan terhadap pedagang cilok inisial P (33) yang jasadnya ditemukan di kontrakan daerah Cikupa, Kabupaten Tangerang. Kasus itu dipicu rasa dendam yang disimpan oleh kedua…

    WNI Bunuh WNI di Jalanan Jepang Disebut Saling Kenal

    Jakarta – Seorang wanita berwarga negara Indonesia (WNI) tewas ditikam pria yang juga WNI di Kota Chitose, Hokkaido, Jepang. Pelaku dan korban diyakini saling kenal. Dilansir The Japan News dan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *