MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan baru ada 50 ribu interactive flat panel atau papan pintar interaktif yang digunakan sekolah-sekolah di Indonesia.
“Saat ini sudah lebih dari 50 ribu yang digunakan dan lebih dari 150 ribu yang terkirim,” kata Mu’ti saat ditemui di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebelumnya, Kemendikdasmen menargetkan penyaluran IFP pada 2025 sebanyak 288 ribu. Sehingga, kata Mu’ti, diharapkan setiap sekolah mendapatkan satu IFP untuk digunakan dalam belajar mengajar.
Tahun depan, pemerintah berencana menambah jumlah penyaluran IFP ke sekolah-sekolah. “Tahun depan yang dijanjikan Pak Presiden dalam rapat kabinet, akan dibagikan tiap sekolah tiga hingga 2026. Diharapkan ada empat IFP di masing-masing sekolah,” ujarnya.
Mu’ti juga menyampaikan presiden berencana akan mengirim lagi sebanyak dua buah IFP di tahun 2027. “Jadi keseluruhan pada akhir tahun 2027, kalau ini berjalan dengan lancar, semoga berjalan dengan lancar tiap-iap sekolah, akan ada enam IFP. Teorinya setiap kelas akan bisa memiliki IFP,” kata dia.
Kemendikdasmen memastikan program distribusi papan interaktif pintar ke sekolah-sekolah seluruh Indonesia berjalan dengan landasan hukum yang jelas. Program ini disebut bukan sekadar tren teknologi, melainkan kebijakan negara yang mengikat.
Dasar hukum program ini tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang revitalisasi satuan pendidikan. Instruksi itu menekankan pembangunan sekolah unggul sekaligus implementasi digitalisasi pembelajaran. Presiden Prabowo Subianto bahkan menegaskan target setiap sekolah memperoleh perangkat IFP dalam pidatonya pada Hari Guru Nasional 2024 dan Hari Pendidikan Nasional 2025.





