Analis MAMI sebut kebijakan tarif AS dampaknya minim ke RI

Analis MAMI sebut kebijakan tarif AS dampaknya minim ke RI

  • Rabu, 12 Maret 2025 17:35 WIB
  • waktu baca 2 menit
Analis MAMI sebut kebijakan tarif AS dampaknya minim ke RI
Ilustrasi – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Mathias Cormann di Kantor Pusat OECD di Paris, Prancis, guna menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi anggota penuh OECD, Jakarta, Kamis (6/3/3035). ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Walaupun memang kita masih harus menunggu apakah tarif resiprokal yang akan diimplementasikan mengacu pada level rata-rata tarif antarkedua negara, atau per kategori barang.

Jakarta (ANTARA) – Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menyampaikan kebijakan penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) akan berdampak cenderung minim ke Indonesia.

Saat ini yang akan langsung berdampak ke Indonesia, yaitu hanya pengenaan 25 persen tarif untuk baja dan potensi tarif resiprokal, kata Dimas, di Jakarta, Rabu.

Terkait baja, ia menjelaskan ekspor baja dari Indonesia ke AS tahun 2023 hanya senilai 199 juta dolar AS atau setara dengan 0,07 persen dari total ekspor seluruh komoditas Indonesia yang nilainya mencapai 264 miliar dolar AS, sehingga dampaknya cukup minim.

Sementara itu, terkait risiko atas tarif resiprokal, ia menyebut dampaknya terbatas karena tingkat tarif rata-rata antara Indonesia dan AS yang ada saat ini sudah setara di kisaran 4 persen.

“Walaupun memang kita masih harus menunggu apakah tarif resiprokal yang akan diimplementasikan mengacu pada level rata-rata tarif antarkedua negara, atau per kategori barang,” ujar Dimas.

Dimas menjelaskan, risiko tarif tetap ada meskipun minim, dan yang harus lebih disikapi adalah risiko tidak langsung yang timbul dari potensi penurunan perdagangan global dan permintaan ekspor dari Indonesia, serta kenaikan harga barang-barang impor secara umum.

Sejak Januari 2025, ia menjelaskan keresahan pasar terus meningkat di tengah banyaknya informasi terkait kebijakan tarif AS yang tidak lengkap dan berubah-ubah.

Mengacu data Economic Policy Uncertainty Index, terlihat bahwa pasar mengkhawatirkan ketidakpastian kebijakan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan moneter.

Indeks ketidakpastian kebijakan perdagangan pada Februari 2025 tercatat melesat level tertinggi kedua sejak kenaikan di era perang tarif tahun 2018.

“Kami berharap setelah ada kejelasan dan informasi rinci terkait tarif, maka pasar dapat mengkaji ulang risiko dan peluang yang ada, sehingga volatilitas pasar bisa mereda,” ujar Dimas.

Baca juga: Membangun ekonomi syariah yang inklusif dan terbuka di Indonesia

Baca juga: Kemenekraf dan CNN Indonesia bahas penguatan industri kreatif

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Pria di Lampung Tusuk Pacar 12 Kali Gegara Tak Diperbolehkan Menginap

    Jakarta – Seorang pria di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, nekat menusuk kekasihnya hingga mengalami belasan luka tusukan. Pelaku kesal karena tidak diizinkan menginap di rumah korban. Dilansir detikSumbagsel, peristiwa tersebut…

    Mark Up Motor Listrik BGN Rp 1 T, Dadan Pernah Bilang Rp 42 Juta Per Unit

    Jakarta – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan salah satu harga barang yang diduga digelembungkan atau di-mark up dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program makan bergizi gratis (MBG) di Badan Gizi…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *