Dekan FIB UI sebut jalur rempah dapat hidupkan interaksi antarbangsa

Dekan FIB UI sebut jalur rempah dapat hidupkan interaksi antarbangsa

  • Selasa, 29 Oktober 2024 16:05 WIB
Dekan FIB UI sebut jalur rempah dapat hidupkan interaksi antarbangsa
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Bondan Kanumoyoso pada seminar bertajuk “Menelusuri peran jalur rempah dalam peradaban Maritim Melayu” di Auditorium FIB UI Depok Jawa Barat, Selasa (29/10/2024). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

Jalur rempah ini pertarungan wacana, yang dikenal hingga saat ini masih jalur sutera, jadi ini bisa menjadi semangat untuk menghidupkan pengetahuan-pengetahuan

Jakarta (ANTARA) – Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) Bondan Kanumoyoso menyebutkan jalur rempah dapat menghidupkan interaksi antarbangsa melalui aspek maritim yang menjadi kekuatan Tanah Air.

Spice road 'jalur rempah' perlu kita hidupkan sebagai upaya untuk memberikan perspektif yang lain. Kita berdialog dan merangkul semua jaringan yang ada di sini, menunjukkan bagaimana interaksi antarbangsa dihidupkan,” katanya dalam seminar Penutupan Pameran Sejarah di FIB UI Depok Jawa Barat, Selasa.

Bondan menegaskan, tema “Menelusuri peran jalur rempah dalam peradaban Maritim Melayu” sangat sesuai dengan tujuan Indonesia untuk menghidupkan jalur rempah.

“Maritim Melayu ini kaya akan berbagai macam dimensi karena akan menyentuh aspek-aspek yang sangat kaya, bisa dibahas secara multidimensi dan keilmuan,” ujarnya.

Menurutnya, jalur rempah juga bisa digunakan untuk diplomasi budaya Indonesia kepada dunia internasional, karena selama ini yang dikenal oleh bangsa-bangsa lain adalah jalur sutera, perdagangan internasional dari peradaban kuno Tiongkok yang menghubungkan antara Barat dan Timur.

“Jalur rempah ini pertarungan wacana, yang dikenal hingga saat ini masih jalur sutera, jadi ini bisa menjadi semangat untuk menghidupkan pengetahuan-pengetahuan,” ucapnya.

Ia menegaskan, landasan pengetahuan tentang jalur rempah yang dipahami oleh masyarakat selama ini dapat sama-sama dipertanyakan sehingga masyarakat dapat bernalar kritis untuk memandangnya dari berbagai macam disiplin ilmu.

“Geografi, teknologi perkapalan misalnya, untuk membuktikan apakah ini benar jalurnya orang Melayu, Austronesia, atau yang lain, sehingga kita bisa sama-sama menelusuri peran jalur rempah dalam peradaban maritim Melayu ini,” tuturnya.

Sebelumnya, pada Bulan September 2024, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan pengakuan Jalur Rempah sebagai warisan dunia UNESCO menguatkan peran sentral Indonesia dalam sejarah dunia.

“Ini 'pengakuan Jalur Rempah oleh UNESCO' menguatkan identitas nasional kita di kancah global, menunjukkan bahwa Indonesia memainkan peran sentral dalam sejarah dunia,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid.

Menurutnya, pengakuan global atas Jalur Rempah menjadi pengingat kepada dunia mengenai kontribusi Indonesia pada aspek kultur dan sejarah sekaligus pendorong bagi generasi muda untuk melanjutkan warisan penting ini.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2024

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

  • Related Posts

    Momen Prabowo Naik Maung Hadiri Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

    Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina. Prabowo hadir dalam forum internasional itu menggunakan mobil Maung Garuda. Dalam siaran YouTube Sekretariat Presiden,…

    Mimpi Aldi Bersama Istri dan Anak Merantau Kandas Usai Bus ALS Terbakar

    Jakarta – Suasana haru menyelimuti keluarga korban kecelakaan bus ALS yang menabrak truk tangki minyak di Sumatera Selatan, di posko RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang. Salah satu keluarga korban, Hambali…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *