Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi mengaku dikuntit selama 10 hari oleh sejumlah orang tak dikenal (OTK) yang memantau gerak-geriknya saat ia beraktivitas di rumahnya di Jakarta, maupun ketika pergi ke luar. Islah mengatakan ia menyadari sedang diawasi OTK setelah rangkaian peristiwa yang terjadi mulai sekitar 17-25 Mei 2026.
Di rentang waktu itu, Islah mengatakan bahwa ada orang yang memfoto depan rumahnya, anggota keluarganya hingga melintas menggunakan motor sambil memotret orang yang berkunjung ke kediamannya. Tokoh Nahdlatul Ulama ini juga memvideokan mobil berplat nomor A 1299 NB yang membuntutinya dan kerap terparkir di sekitar rumahnya dengan radius 100 meter.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kecurigaan Islah makin menguat saat beberapa orang tetangganya melaporkan mereka dimintai informasi mengenai Islah yang sedang tidak berada di rumah.
“Waktu bapak di luar kota, beberapa orang datang menanyakan aktivitas Pak Islah. Dia kerja di mana, anaknya seperti apa, dan seterusnya,” kata Islah menirukan percakapan dengan tetangganya saat menceritakan ulang kejadian kepada Tempo, Selasa, 26 Mei 2026.
Islah berusaha mencari kebenaran dari kecurigaannya dengan meminta bantuan kepada saudaranya untuk mengobservasi kegiatan orang-orang tak di kenal yang duduk di sekitar rumahnya. Menurut Islah, kecurigaannya makin mendasar ketika orang-orang tak dikenal itu kabur begitu dihampiri oleh kerabatnya yang ingin mengonfirmasi identitas mereka.
Islah juga mengabadikan sejumlah sosok mencurigakan yang berada di sekitar rumahnya dengan mengunggahnya ke Instagram pada Senin, 25 Mei 2026. Setelah cerita itu ia bagikan, Islah menuturkan masih ada OTK yang mengawasinya, tapi mobil yang awal telah berganti.
Menurut penelusuran kamera pengawas, Islah menyebut ada tujuh orang yang ia curigai menjadi penguntitnya. Dia menduga teror berasal dari Tentara Nasional Indonesia atau TNI lantaran ia kerap mengkritik kembalinya kekuatan militer di Indonesia di bawah pemerintah Presiden Prabowo Subianto, yang Islah suarakan lewat media sosial maupun forum diskusi.
“Kenapa saya kemudian lebih menyimpulkan lagi bahwa mereka ini tentara, karena selama ini memang saya lebih sering menyuarakan kontra remiliterisasi itu,” kata dia.
Islah menjadi salah satu aktivis yang dilaporkan ke polisi dengan dugaan penghasutan melengserkan Prabowo dalam diskusi Halal Bihalal Pengamat setelah Idulfitri 2026. Islah, bersama dengan Saiful Muzani dan Ubedilah Badrun dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh anggota Aliansi Masyarakat Jakarta Timur pada 8 April 2026. Islah pun menduga, pelaporannya berkaitan dengan materi anti remiliterisasi yang sampaikan.
“Saya menganggap ini pasti yang berusaha untuk mem-profiling saya, memetakan saya termasuk mengintimidasi saya ini pasti dari pihak TNI. Saya akhirnya punya kesimpulan besar bahwa ini semua operasinya tentara,” kata dia.
Menurut Islah, keputusannya membagikan cerita ini untuk menegaskan bahwa orang-orang yang lantang bersikap kritis masih bisa mendapatkan teror seperti penguntitan. Ia menganggapnya sebagai bagian dari ancaman terhadap kehidupan demokrasi yang perlu dilawan bersama.
Kepala Dinas Penerangan Markas Besar TNI Muhammad Nas menyatakan bahwa kecurigaan Islah sah-sah saja. Nas mengklaim TNI akan menindaklanjuti dugaan keterlibatan tentara dalam penguntitan Islah.
“Terkait kecurigaan boleh saja, namun penyebutan OTK mengartikan ini liar. Dalam hal ini pihak Mabes TNI tetap akan melakukan pendalaman,” ujar Nas melalui pesan singkat pada Selasa malam.






