Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar perayaan Paskah di Balai Sarbini, Jakarta. Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie menyoroti pentingnya menjaga dan merawat toleransi dalam kehidupan berbangsa.
“Toleransi di PSI itu kami hidupi, kami rawat, dan kami rayakan bersama-sama. Amin, dan semoga, bukan semoga sih, ini akan menjadi komitmen yang sudah sejak awal PSI jaga yaitu untuk memperjuangkan toleransi,” kata Grace Natalie dalam sambutannya, Kamis (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan, dalam perayaan Lebaran, panitia tak hanya berasal dari umat Muslim. Namun, juga melibatkan kader dari berbagai latar belakang agama.
Grace Natalie juga menyinggung keterlibatan kelompok yang kerap dilabeli minoritas dalam kontestasi politik melalui PSI. Dia menyebut lebih dari 50 persen kader yang difasilitasi maju sebagai calon legislatif berasal dari kelompok tersebut.
“Setelah mereka menjadi anggota dewan, mereka melaporkan kinerjanya secara rutin. Kemudian bahkan di beberapa tempat itu di satu fraksi, saya mendapat update bahwa mereka memperjuangkan dan menggolkan perda-perda toleransi di tempatnya masing-masing,” ungkapnya.
“Saya tahu bahwa politik itu bukan barang yang semua orang mau pegang. Agak-agak serem dan ngeri mungkin ya, bahkan mungkin dengan berita-berita akhir-akhir ini kita juga jadi punya mixed reviews mungkin tentang politik,” sambung dia.
Lebih lanjut, Grace juga menyoroti masih adanya kendala dalam pelaksanaan ibadah di sejumlah daerah. Dia berharap tak ada lagi pembatasan yang menyulitkan masyarakat untuk beribadah.
“Kita berharap semoga ke depan nggak usahlah ada izin-izin keramaian untuk ibadah,” ujarnya.
“Semoga lebih banyak lagi nanti anak-anak Tuhan yang pelayanannya akan terpanggil di jalur politik, jadi anggota legislatif, jadi kepala daerah, yang memperjuangkan toleransi tidak hanya di dalam gedung gereja tapi di dalam masyarakat karena di situlah pelayanan kita yang sebenarnya,” imbuh dia.
(amw/isa)






