Menteri HAM Bantah Jawa Barat Intoleran, Singgung Satu Kasus

MENTERI Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menolak penilaian yang menyebutkan Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia. Pigai meenyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi XIII DPR, Selasa, 7 April 2026.

Dia mengatakan memiliki pengalaman tinggal lebih dari dua dekade di Depok, Jawa Barat,  dan tidak menemukan kasus penyegelan maupun kekerasan berbasis agama. “Itu hanya opini negatif yang sudah terbangun sekian lama, seakan-akan Jawa Barat itu intoleran,” kata Pigai.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut dia, berdasarkan pengalaman, pemantauan, dan penelitian kasus intoleransi beragama di Jawa Barat hanya tercatat pernah terjadi satu kali. Namun, kata dia, isu yang berkembang justru menggiring opini seolah-olah wilayah yang dipimpin Gubernur Dedi Mulyadi itu memiliki tingkat intoleransi yang tinggi. “Satu kasus saja muncul dianggap luar biasa,” ujar Pigai.

Dia menuturkan, jika dilihat dalam spektrum yang lebih luas, kasus intoleransi berbasis agama acapkali terjadi di wilayah yang terdapat kelompok beragama minoritas. Misalnya umat Islam, semakin ke wilayah Timur Indonesia, Pigai mengatakan, mereka memiliki potensi tinggi menjadi korban intoleran, mengingat posisi dan statusnya sebagai kelompok minoritas.

Laporan yang dirilis SETARA Institute pada Maret lalu menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah kasus kekerasan berbasis agama tertinggi dari wilayah lainnya. Terdapat 56 kasus kekerasan berbasis agama di bumi Pasundan. 

Peneliti Kebebasan Beragama/Berkeyakinan SETARA Institute Harkitkan Kaur mengatakan, tingginya kasus kekerasan berbasis agama di Jawa Barat disebabkan oleh masih dominannya kelompok intoleran yang melanggengkan praktik mayoritarianisme. “Praktik ini menyebabkan kebebasan warga beragama minoritas terbatas, termasuk untuk berekspresi,” kata Kaur, Selasa, 10 Maret 2026.

Beberapa contoh kasus intoleran di Jawa Barat, antara lain perusakan bangunan yang rumah doa di Sukabumi yang digunakan untuk retret pada 2025, maupun penyegelan Gereja GKPS di Purwakarta oleh pemerintah daerah dengan alasan bangunan ilegal.

  • Related Posts

    Kapal Nelayan Terbakar di Belawan, 3 Orang Tewas-5 Hilang

    Medan – Sebuah kapal nelayan yang membawa 21 orang terbakar di perairan Belawan. Dilaporkan 3 orang tewas dan 5 orang lainnya masih hilang. “Tiga ABK meninggal dunia, lima lainnya hilang,”…

    WHO menghentikan medis di Gaza setelah pekerjanya dihilangkan

    Evakuasi akan tetap berharap sampai pemberitahuan lebih lanjut, kata WHO, seraya menambahkan bahwa kejadian tersebut sedang terjadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghentikan evakuasi medis dari Gaza ke Mesir setelah…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *