ICWA: Serangan Israel Tunjukkan Abainya Komitmen Perdamaian

INDONESIAN Council on World Affairs mengutuk serangan militer Israel terhadap pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan pada akhir Maret lalu. Serangan di tengah konflik antara Israel dan Hizbullah itu menewaskan tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ketua Dewan Eksekutif ICWA AI Busyra Basnur menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban, rekan, dan seluruh personel penjaga perdamaian. “Tindakan Israel yang semakin meningkat baru-baru ini menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sama sekali tidak berniat mewujudkan perdamaian di Timur Tengah,” ucap dia dalam siaran pers pada Rabu, 1 April 2026.

Ketiga prajurit yang gugur adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala Firzal Rhomadhon. Ketiganya merupakan bagian dari kontingen Garuda yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Libanon.

ICWA menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Libanon sekaligus membahayakan pasukan penjaga perdamaian di bawah PBB. Organisasi itu menyebut eskalasi serangan Israel yang terus meningkat menunjukkan tidak adanya komitmen untuk mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Sebagai negara kontributor pasukan UNIFIL, Indonesia dinilai memiliki kepentingan langsung terhadap keselamatan personelnya. ICWA menyebut serangan yang berulang dan bersifat terbuka tersebut telah membuat situasi keamanan di Libanon semakin tidak terkendali.

ICWA mendukung langkah pemerintah Indonesia yang mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar pertemuan darurat. Forum tersebut dinilai penting untuk merespons eskalasi serangan mematikan serta memastikan perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian di lapangan.

ICWA menilai, tanpa langkah tegas dari komunitas internasional, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian berpotensi terus berulang dan memperbesar risiko bagi negara-negara kontributor, termasuk Indonesia.

Sebelumnya, tiga prajurit TNI gugur dan lima lainnya terluka dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan pada 29–30 Maret 2026. Insiden pertama terjadi pada 29 Maret malam hingga 30 Maret dini hari di wilayah Adchit al-Qusayr, saat ledakan proyektil menghantam area pasukan UNIFIL, dan satu prajurit TNI gugur. 

Sehari berselang, 30 Maret 2026, ledakan kembali terjadi di dekat Bani Hayyan dan menghantam kendaraan patroli, menewaskan dua prajurit TNI. Rangkaian serangan ini mempertegas meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian Indonesia di kawasan konflik tersebut.

  • Related Posts

    Pramono Anung Larang ASN Pakai Kendaraan Pribadi saat WFH

    PEMERINTAH Provinsi Jakarta mulai menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap Jumat sejak April 2026. Dalam kebijakan ini, ASN yang menjalani WFH dilarang menggunakan kendaraan…

    Laju KA Ciremai Terhenti di Jalur Maswati-Sasaksaat Akibat Longsor

    Bandung Barat – Jalur rel di petak Maswati-Sasaksaat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tertutup longsor. Kereta Api (KA) Ciremai relasi Semarang Tawang-Bandung terpaksa berhenti di tengah perjalanan demi keselamatan penumpang.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *