MENTERI Kebudayaan Fadli Zon menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat kebudayaan dunia. Ia menekankan bahwa kekayaan budaya bangsa merupakan modal utama pembangunan.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi ibu kota kebudayaan dunia karena kekayaan megadiversity yang kita miliki,” ujar Fadli saat menyampaikan orasi budaya pada acara Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa di Auditorium GPH Haryo Mataram, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis, 26 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Fadli mengingatkan bahwa pemajuan kebudayaan adalah amanat konstitusi yang tertuang dalam Pasal 32 UUD 1945. Menurut dia, kebudayaan seharusnya menjadi fondasi pembangunan sebelum ekonomi. “Kebudayaan harus menjadi fondasi utama sebelum sektor ekonomi,” kata dia.
Fadli menyoroti kekayaan etnis dan bahasa daerah sebagai soft power. Ia menyebut Indonesia bukan sekadar negara bangsa, tetapi sebuah negara peradaban. “Dengan 1.340 etnis dan 718 bahasa daerah, kekayaan budaya kita adalah kekuatan soft power yang luar biasa,” katanya.
Ia menekankan pentingnya temuan arkeologis terbaru di Sulawesi Tenggara yang menunjukkan lukisan gua purba berusia 67.800 tahun. Menurut Fadli, hal ini membuktikan bahwa Nusantara termasuk salah satu pusat peradaban tertua di dunia. “Lukisan gua purba berusia 67.800 tahun membuktikan bahwa peradaban di Nusantara termasuk yang tertua di dunia,” ujarnya.
Selain itu, ia mengajukan gagasan teori “Out of Nusantara” terkait asal-usul manusia modern. Gambar perahu pada dinding gua purba menunjukkan kemampuan migrasi maritim nenek moyang bangsa Indonesia. “Mungkin manusia modern berasal dari Nusantara atau ‘Out of Nusantara’,” katanya.
Fadli menekankan transformasi budaya menjadi kekuatan ekonomi melalui industri hak kekayaan intelektual. Ia mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dalam menciptakan gelombang K-Pop yang mendunia.
“Indonesia, dengan arca, candi, dan tradisi lisan, punya modal lebih besar untuk menciptakan ‘Indonesian Waves’ sebagai penggerak ekonomi masa depan,” kata Fadli.
Ia pun mengajak perguruan tinggi dan sektor swasta bersinergi untuk merawat ekosistem budaya. Ia berharap riset kebudayaan dapat menjadi inovatif dan relevan di era digital.
“Dengan kerja sama dari tingkat desa hingga pusat, kebudayaan Indonesia akan tegak sebagai identitas bangsa yang membanggakan,” kata Fadli.
Rektor UNS Hartono menyatakan budaya merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban dan karakter bangsa. Menurut dia, budaya tidak hanya hadir dalam bentuk tradisi dan seni, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.
“Pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan harus mampu membangun kecerdasan intelektual sekaligus memperkuat kohesi sosial, dialog antarbudaya, dan kesadaran sebagai warga dunia,” kata Hartono.
Hartono juga menekankan pendidikan modern harus tetap berakar pada nilai-nilai budaya, sejalan dengan prinsip yang digaungkan oleh UNESCO, yaitu penghormatan terhadap keberagaman budaya dan hak asasi manusia.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, ia mengatakan UNS menjadikan budaya sebagai bagian penting dalam visi pengembangannya. “Yakni menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang unggul di tingkat internasional dengan berlandaskan nilai-nilai budaya nasional,” kata Hartono.






