Jakarta –
Aksi perebutan kekuasaan berujung tragedi berdarah bisa terjadi di mana saja. Bahkan di atas meja makan sekalipun. Tragedi seperti ini pernah terjadi dalam sejarah politik di Skotlandia.
Dikutip dari Pusat Studi Skotlandia University of Dundee, tragedi berdarah ini bermula saat pemimpin Skotlandia, Raja James I dibunuh pada 1437. Skotlandia mengalami ketidakstabilan politik lantaran penerus kerajaan, James II masih berusia 6 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kondisi ini ada Archibald Douglas dari klan bangsawan paling kuat di Skotlandia, mengambil sementara kekuasaan. Ia menjadi wali raja karena James II masih anak-anak. Archibald Douglas kemudian meninggal mendadak pada tahun 1439. Namun, dari sini proses perebutan kekuasaan dimulai.
William Douglas, Earl Douglas ke-6 yang baru tak siap dengan proses perebutan kekuasaan licik.
Pada tanggal 24 November 1440, Douglas dan saudara laki-lakinya, David, diundang untuk makan malam di Kastil Edinburgh. James II ikut makan bersama mereka. Tiba-tiba, salah satu bangsawan terkuat yang juga penasihat raja, Crichton meletakkan kepala banteng di atas meja makan. Menurut pada ahli sejarah, kepala banteng ini merupakan simbol kematian.
Douglas dan adiknya kemudian ditangkap oleh anak buah klan Crichton. Douglas dituduh melakukan pengkhianatan, dan dieksekusi tanpa pengadilan. Kepala Douglas dan adiknya dipenggal secara langsung di bukit halaman kastil. Tanpa ada proses pengadilan sama sekali.
Sejak itu, tragedi ini dikenal dengan makan malam hitam atau black dinner. Tragedi black dinner menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah perpolitikan di Skotlandia.
(rdp/imk)






