Mudik Penuh Risiko Naik Mobil Bak Terbuka Berisi 15 Orang

Jakarta

Mudik menggunakan mobil bak terbuka masih banyak ditemukan di jalur lintas Cianjur-Bandung. Biasanya, mereka yang menggunakan mobil tersebut para pemudik lokal.

Kondisi di dalam bak beragam, ada yang diberi alas tikar atau kasur lantai, hingga yang tanpa alas sama sekali. Meski harus menghadapi terik matahari dan terpaan angin selama perjalanan, para pemudik tetap terlihat menikmati momen tersebut.

Mereka juga harus bersabar saat arus lalu lintas di jalan itu mengalami kepadatan. Pada H+1 Lebaran ini, pemudik lokal mendominasi kendaraan yang melintas di jalan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ukar (57), salah satu pemudik asal Ciranjang berbagi certa. Ukar bersama keluarga besarnya menggunakan mobil bak terbuka miliknya untuk bersilaturahmi ke rumah saudaranya di Tagog Apu, Padalarang.

“Ini sehari-hari mobil digunakan untuk sayur, kalau lebaran suka digunakan untuk silaturahmi ke rumah keluarga istri di Tagog Apu,” kata Ukar dijumpai di salah satu minimarket di kawasan Rajamandala, Bandung Barat, dlansir detikJabar, Minggu (22/3/2026).

Ukar mengungkapkan, karena tidak memiliki mobil tertutup seperti minibus, dia terpaksa menggunakan mobil bak terbukanya untuk mudik. Apalagi menurutnya, jarak mudik yang dekat tidak menjadi masalah untuk menggunakan kendaraan itu.

Ukar mengatakan dengan mobil bak terbuka, keluarganya yang berjumlah 15 orang dapat terangkut semua. Ditambah ongkosnya yang menghabiskan kurang dari Rp 100 ribu.

“Pakai ini sekeluarga masuk, kalau seperti pakai mobil kijang atau carry, harus dua mobil,” tuturnya.

“Bensin tidak sampai Rp 100 ribu, kalau punya uang lebih lumayan buat ngopi atau makan siang,” lanjutnya.

Baca selengkapnya di sini.

(eva/eva)

  • Related Posts

    Berita Terkini, Berita Hari Ini Indonesia dan Dunia | tempo.co

    Asas jurnalisme kami bukan jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan…

    Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Warga

    Jakarta – Suara lonceng yang memecah keheningan di lereng Gunung Agung menjadi mukadimah bagi sebuah harapan baru. Di Pura Kancing Gumi, Bali, doa-doa melambung setinggi 250 meter dari permukaan laut,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *