Lebaran Perdana Warga Kampung Nelayan Sejahtera, Kini Tanpa Rasa Cemas

Jakarta

Angin laut berhembus pelan pada Sabtu pagi. Suara takbir mengalun dari masjid di Kampung Nelayan Sejahtera, Desa Eretan Kulon, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Bagi Warsana (42), suasana hari raya Idulfitri tahun ini terasa berbeda, rasanya lebih senang dan lebih tenang. Bukan karena baju baru atau hidangan yang melimpah, tapi karena untuk pertama kalinya, Warsana dan keluarga bisa merayakan lebaran tanpa dihantui rasa cemas.

“Lebaran tahun ini rasanya lebih senang, lebih tenang. Kebersihan di sini terasa sekali, suasananya juga nyaman. Jadi walaupun nggak punya banyak, tetap bisa ngerasain bahagia bareng keluarga,” ujar Warsana dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warsana tinggal bersama sang istri, Kadmina (39), serta ketiga anaknya. Kehidupan Warsana sebelumnya jauh dari kata tenang. Sejak remaja ia sudah melaut, mengikuti jejak keluarganya sebagai nelayan. Setiap dini hari ia berangkat mencari ikan, lalu kembali siang hari dengan hasil yang tak selalu pasti.

Setelah berkeluarga, yang paling mengganggu pikiran Warsana bukan lagi hanya hasil tangkapan. Melainkan keluarga yang ditinggalkan di rumah yang rawan banjir rob.

“Kalau lagi kerja itu pasti ada rasa khawatir. Kepikiran terus rumah banjir, kepikiran anak istri. Tapi mau gimana, kalau khawatir terus, kerja juga jadi enggak fokus. Jadi ya ditahan saja, yang penting tetap jalan cari nafkah,” katanya.

Rumahnya di blok Pangpang, Desa Eretan Kulon yang ditempati sejak 2014 perlahan tak lagi layak huni. Banjir rob datang berulang, membawa air laut yang merendam lantai dan merusak hampir seluruh isi rumah. Kondisi lingkungan yang tidak sehat juga berdampak pada anak-anaknya.

“Anak-anak itu sering sakit, kadang sakit perut, kadang gatal-gatal. Airnya asin, lingkungannya juga kurang bersih, jadi kesehatan mereka sering terganggu,” ungkapnya.

Puncaknya terjadi pada akhir 2022 saat banjir datang sangat parah. Istri Warsana tengah hamil besar dan akan melahirkan anak ketiga mereka. Sang istri harus dievakuasi dengan cara dibopong menggunakan kasur ke rumah orang tua. Tak lama setelah itu, rumah mereka roboh.

“Waktu itu ya sudah, enggak kepikiran yang lain. Yang penting keluarga selamat dulu. Rumah bisa dicari lagi, tapi kalau keluarga kenapa-kenapa itu yang nggak tergantikan,” ucapnya.

Setelah kejadian itu, Warsana dan keluarganya sempat mengungsi dan tinggal sementara di rumah orang tuanya. Di tengah keterbatasan, ia tetap berusaha bertahan sambil menunggu harapan akan tempat tinggal yang lebih layak.

Harapan itu muncul sejak Warsana dan keluarga menempati Kampung Nelayan Sejahtera pada tahun 2025 yang merupakan inisiasi Kementerian Sosial, pemerintah daerah, Baznas, BNPB, TNI-Polri dan berbagai pihak lain.

Kampung ini dibangun sebagai hunian layak bagi nelayan yang sebelumnya tinggal di wilayah rawan rob. Sebanyak 93 rumah tipe 36 berdiri di kawasan ini, lengkap dengan dua kamar tidur, ruang tengah, dapur, dan kamar mandi.

Tak hanya rumah, kawasan ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari akses air bersih, sanitasi, jaringan listrik, hingga fasilitas sosial seperti masjid, taman anak dan lansia, serta ruang-ruang pemberdayaan ekonomi seperti sentra UMKM bagi keluarga nelayan.

“Alhamdulillah sekarang jauh lebih baik. Tempatnya bersih, airnya lebih layak, anak-anak juga jadi lebih sehat. Kita sebagai orang tua juga jadi lebih tenang, nggak was-was lagi kalau lagi kerja ninggalin keluarga di rumah,” kata Warsana.

Meski begitu, Warsana tetap bekerja keras. Selain melaut, ia juga mengambil pekerjaan tambahan yaitu buruh harian di TPI Eretan Kulon, hingga ojek barang pesanan warga. Semua itu ia lakukan demi keluarganya.

“Sekarang saya berusaha kerja apa saja yang penting halal. Yang penting anak-anak bisa sekolah, bisa makan, dan kehidupan ke depan bisa lebih baik,” paparnya.

Lebaran yang dulu dirasa hanya lewat begitu saja, tahun ini menjadi momen yang sangat berarti bagi Warsana dan keluarga. Ia memilih merayakannya sederhana, cukup bersama keluarga kecilnya di rumah baru mereka.

“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, yang sudah peduli dengan masyarakat kecil seperti kami. Dengan adanya tempat ini, kehidupan kami jadi jauh lebih baik, lebih layak, dan lebih tenang,” ucapnya.

Lebaran bukan lagi sekadar perayaan bagi Warsana. Namun, tentang rasa aman yang dulu tak pernah ia miliki. Tentang rumah yang tak lagi terendam air. Tentang anak-anak yang bisa tumbuh lebih sehat.

Tonton juga video “Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih Ditargetkan Rampung Akhir 2025”

(ega/ega)

  • Related Posts

    BNPB: Banjir dan Cuaca Ekstrem Terjang Pulau Jawa dan Maluku Saat Lebaran

    Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah wilayah di pulau Jawa dan Maluku mengalami bencana hidrometeorologi saat Lebaran. Hidrometeorologi meliputi cuaca ekstrem dan banjir. Dilansir Antara, Senin (23/3/2026)…

    Partai Gerakan Kebebasan Slovenia memimpin pemilu dengan tipis: Exit poll

    Kubu liberal yang berkuasa dibandingkan kubu oposisi yang konservatif dalam persaingan yang sangat ketat, menurut pendapat jajak. Gerakan Kebebasan (GS) yang berkuasa di Slovenia berada pada jalur yang tepat untuk…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *