INFO TEMPO – Usai menunaikan salat Id di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Sabtu, 21 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri menyapa warga lebih dekat dengan membagikan paket bantuan sembako. Ia juga meninjau langsung kondisi Hunian Sementara (Huntara) terdekat untuk memastikan fasilitas dasar bagi para penyintas banjir telah terpenuhi dengan layak.
Presiden menyatakan kekagumannya terhadap kinerja Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra. Ia menilai proses transisi dari masa darurat ke pemulihan berjalan sangat efektif. “Perbaikannya, pemulihannya sangat cepat. Alhamdulillah hampir 100 persen,” ujarnya kepada awak media.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Presiden menegaskan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi pengungsi di Aceh Tamiang yang tinggal di tenda-tenda darurat. Seluruh warga terdampak telah berhasil direlokasi ke hunian tetap (Huntap) maupun hunian sementara yang didirikan pemerintah dengan fasilitas memadai.
“Di tenda sudah tidak ada lagi, 100 persen semua sudah keluar. Mereka sudah masuk ke hunian sementara atau hunian tetap. Alhamdulillah situasinya membaik, listrik juga hampir semuanya sudah menyala, sudah jalan 100 persen,” tambah Presiden dengan nada bangga.
Secara khusus, Prabowo menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh petugas yang berjibaku di lapangan. Ia menyebut sinergi lintas sektoral antara TNI-Polri, BNPB, Kementerian PU, hingga Pemerintah Daerah menjadi kunci pemulihan yang kini mulai dirasakan langsung oleh warga di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Dua Bulan Kerja Keras Satgas PRR
Keberhasilan yang disebut Presiden terekam jelas dalam data Satgas PRR. Sejak mulai bertugas pada 7 Januari 2026 di bawah komando Mendagri Tito Karnavian, satgas ini terus mengejar target pemulihan tanpa henti.
Sebagai perbandingan, beberapa hari pascabanjir besar pada 2 Desember 2025, jumlah pengungsi tercatat mencapai 2.108.582 jiwa yang tersebar di tenda darurat dan fasilitas publik. Namun, per 17 Februari 2026, angka tersebut menyusut drastis. Di Aceh tersisa 12.144 jiwa, Sumatera Utara 850 jiwa, sementara Sumatera Barat sudah nihil pengungsi tenda. Selama Ramadan, proses pemindahan ini dikebut hingga target nihil pengungsi tenda akhirnya terwujud tepat saat Idul Fitri.
Progres pembangunan fisik pun menunjukkan angka signifikan. Dari total target 19.351 unit Huntara di tiga provinsi, sebanyak 16.088 unit telah rampung dibangun (Aceh: 14.289 unit, Sumut: 969 unit, dan Sumbar: 830 unit). Hingga H-1 Lebaran, sebanyak 14.217 unit Huntara telah resmi dihuni oleh para penyintas.
Keberhasilan ini juga diakui oleh pemimpin daerah. Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, mengungkapkan bahwa sejak 11 Maret 2026, wilayahnya telah mencapai target nol pengungsi di tenda.
“Alhamdulillah masyarakat Pidie Jaya saat ini seluruhnya sudah tidak berada lagi di tenda-tenda pengungsian, semuanya sudah masuk ke Huntara dengan fasilitas dasar memadai,” ujarnya kepada Tempo, Kamis malam, 19 Maret 2026.
Meski kondisi Huntara secara umum sudah layak huni, Hasan mencatat beberapa tantangan yang masih memerlukan perhatian, terutama akses air bersih. “Beberapa fasilitas masih perlu di-upgrade, misalnya penyediaan air bersih karena PDAM milik Pemda masih rusak. Jika hanya bergantung pada sumur bor, terkadang tidak mampu meng-cover seluruh kebutuhan,” ucap dia. (*)






