Jakarta –
Khotbah Salat Idul Fitri Kantor Pusat Muhammadiyah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menyoroti isu ketahanan pangan di tengah ancaman krisis global. Umat Islam diingatkan agar tidak boros dalam mengelola makanan serta meningkatkan kepedulian untuk berbagi kepada sesama.
Tajdid PWM DKI Jakarta, Izza Rohman dalam khotbahnya menekankan, bahwa Idul Fitri bukan hanya momentum kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga waktu untuk memperkuat rasa syukur, termasuk atas nikmat pangan yang kerap dianggap sepele.
“Janganlah memandang kecil nikmat makanan. Gagal mensyukuri nikmat adalah awal dari kehilangannya,” ujar Izza dalam khotbahnya, Jumat (20/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengingatkan, saat ini dunia tengah menghadapi ancaman krisis pangan. Bahkan, lembaga internasional telah memperingatkan potensi meningkatnya kelaparan global seiring terganggunya rantai pasok pangan akibat konflik dan situasi geopolitik.
Dalam khotbahnya, Izza memaparkan data bahwa lebih dari 30 persen makanan di dunia tidak termakan oleh manusia. Sekitar seperlima makanan terbuang di tahap konsumsi, sementara sisanya terbuang di tahap produksi dan distribusi.
“Laporan menyebutkan satu miliar ton makanan terbuang setiap tahun. Bahkan satu miliar porsi makanan terbuang setiap harinya,” katanya.
Di sisi lain, kata dia, ratusan juta penduduk dunia masih mengalami kelaparan dan ketidakamanan pangan. Kondisi ini menjadi ironi yang harus disikapi dengan perubahan perilaku, termasuk di kalangan umat Islam.
Karena itu, ia mengajak umat untuk mensyukuri nikmat pangan dengan cara yang konkret. Salah satunya dengan tidak menyia-nyiakan makanan dan menghindari perilaku boros, terutama dalam momentum Idul Fitri yang identik dengan hidangan berlimpah.
“Tidak saja dalam konteks Idul Fitri, tetapi juga dalam konteks ketika makan bergizi digalakkan di dunia pendidikan kita hari ini, juga dalam konteks ketika masa depan ketahanan pangan dan ekonomi negeri kita dibayangi oleh krisis keamanan global saat ini,” ungkapnya.
“Bersyukur atas nikmat pangan berarti tidak membuangnya secara percuma, tidak menghambur-hamburkannya begitu saja,” lanjutnya.
Selain itu, umat juga didorong untuk memanfaatkan makanan sebagai sarana kebaikan, termasuk memperkuat ibadah dan membantu sesama yang membutuhkan. Ia menegaskan, salah satu bentuk syukur adalah berbagi. Umat diminta tidak kikir dalam menyedekahkan makanan, terlebih kepada kelompok yang kurang mampu.
“Bersyukur berarti mau berbagi. Tidak kikir untuk menyedekahkan kepada sesama, terutama mereka yang kurang sejahtera,” tuturnya.
Tak hanya itu, khotbah juga mengingatkan pentingnya merawat makanan agar tidak cepat rusak serta menghargai seluruh pihak dalam rantai pangan, mulai dari petani hingga penyaji makanan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Bisnis Muhadjir Effendy menyebut Idul Fitri sebagai momentum untuk ‘mengisi ulang’ kondisi spiritual dan mental.
“Ini kesempatan kita untuk recharging, memperbaiki diri, dan menatap masa depan yang lebih baik,” kata Muhadjir.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan penetapan hari raya. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan.
“Baik yang lebaran hari ini maupun besok, semuanya taat. Ini bukan soal siapa yang paling benar,” ujarnya.
(rdp/rdp)






