PB Al Washliyah: Penetapan 1 Syawal Berpotensi Berbeda

KETUA Bidang Hubungan Antarlembaga Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, Julian Lukman, mengatakan penetapan awal Syawal 1447 Hijriah berpotensi mengalami perbedaan.

Hal tersebut disampaikan Lukman dalam Seminar Posisi Hilal di Auditorium HM. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat pada Kamis, 19 Maret 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Awal Syawal 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada hari Sabtu Pahing, 21 Maret 2026,” kata Lukman dalam paparannya, Kamis.

Ia menjelaskan, berdasarkan ijtima awal Syawal 1447 Hijriah dan hasil hisab di 4 markaz yang dilakukan pada Kamis, 19 Maret pukul 8.23 WIB pagi hari tadi menunjukkan hasil sebagai berikut.

Ketinggian hilal di Jayapura berada pada 1° 0′ 58.04”; di Pelabuhan Ratu berada pada 1° 39′ 0.57”; di Medan 2° 36′ 40.78”; dan di Lhoknga, Aceh 2° 50′ 27.33” dengan elongasi 6.01°.

Karenanya, berdasarkan istikmal Ramadan berkemungkinan berlangsung 30 hari karena belum mencapai kriteria imkan rukyah (MABIMS tinggi hilal 3°, elongasi 6,4°).

Kendati begitu, Lukman menyarankan, agar publik tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah yang akan digelar pada Kamis, pukul 19.00 WIB malam ini.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, mengatakan sidang isbat merupakan mekanisme pemerintah dalam menentukan awal bulan di kalender Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

“Seperti biasa, sidang isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama,” kata Abu sebagaimana dikutip dalam laman resmi Kementerian Agama, Kamis.

Setelah seminar disampaikan, dia menuturkan, kegiatan selanjutnya adalah menggelar sidang tertutup guna membahas hasil rukyatulhilal yang masuk dari berbagai daerah, sebelum akhirnya diumumkan kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), pada hari rukyat atau 29 Ramadan 1447 Hijriah alias bertepatan pada hari ini ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan kisaran antara 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’. Sementara sudut elongasi hilal berkisar antara 4°32’40’’ hingga 6°06’11’’.

Abu melanjutkan, sebetulnya seluruh sistem hisab menunjukkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB pagi hari tadi. Tetapi, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

Di samping itu. Kementerian Agama bakal melakukan pemantauan hilal di 117 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pengamatan ini dilakukan oleh Kanwil Kementerian Agama bersama Kantor kabupaten/kota, Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta instansi terkait di daerah.

Sidang isbat juga akan dihadiri pihak lain seperti perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kemudian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, serta para pakar falak dari organisasi kemasyarakatan Islam, dan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.

  • Related Posts

    Prabowo Mengutuk Teror ke Andrie Yunus: Terorisme Biadab

    PRESIDEN Prabowo Subianto mengutuk penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus. Prabowo menyebut tindakan itu sebagai terorisme yang biadab. Menurut Prabowo, serangan terhadap pegiat Komisi untuk Orang…

    Prabowo Perintahkan Usut Dalang Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

    Jakarta – Presiden Prabowo Subianto meminta kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus diusut hingga tuntas. Termasuk siapa aktor intelektual di balik kasus tersebut. “Harus kita usut, siapa…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *