INFO TEMPO – Tampaknya, cita-cita pemerintah lewat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam (Satgas PRR) untuk mengosongkan tenda pengungsi korban banjir Sumatra menjelang Idul Fitri akan terwujud. Tercatat, satgas yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian ini mampu menurunkan 56 persen pengungsi di tenda dalam 4 hari.
Proses pengosongan tenda dilakukan dengan merelokasi para pengungsi ke hunian sementara (huntara) secara masif. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa warga yang direlokasi juga menerima bantuan logistik berupa sembako serta perlengkapan huntara, seperti kasur, kompor, matras, kipas angin, dan karpet plastik.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Keluarga yang menempati huntara akan diberikan bantuan oleh BNPB berupa perlengkapan dan makanan selama 10 hari sejak mereka masuk ke huntara,” ujar Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto pada Kamis, 12 Maret 2026. Di hari yang sama, mantan Panglima Kodam V/Brawijaya ini menghadiri kegiatan pemindahan pengungsi dari tenda ke huntara di Kabupaten Gayo Lues, yang kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama warga dan Forkopimda setempat.
Berdasarkan data per 13 Maret 2026 menunjukkan pengungsi yang tersisa ada di Provinsi Aceh dengan 812 kepala keluarga (KK). Sementara Sumatera Utara dan Sumatera Barat sudah nihil pengungsi, yang menandakan seluruhnya direlokasi ke hunian sementara atau huntara.
Data pengungsi di tenda tersebut menyusut 1.060 KK jika dibandingkan dengan 4 hari lalu atau 9 Maret 2026, di mana Satgas PRR mencatat masih ada 1.872 KK yang belum direlokasi. Data ini menunjukkan bahwa per harinya Satgas PRR merelokasi sebanyak 256 KK.
Jika tren ini terus bertahan, maka target mengosongkan tenda menjelang Idul Fitri yang tinggal sepekan bukan sebuah angan-angan. Target nihil pengungsi di tenda di saat lebaran disepakati dalam rakor Satgas PRR pada Kamis 05 Maret 2026. Usai rakor tersebut, upaya relokasi pengungsi di tenda ini berulang kali diserukan oleh Kasatgas PRR Tito Karnavian. “Kami juga menarget sebelum Lebaran tidak ada lagi yang di tenda. Jangan terlalu lama di tenda karena tidak bagus untuk kesehatan mental, tidak bagus kesehatan fisik,” kata dia pada Kamis, 12 Maret 2026.
Adapun kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Aceh Tamiang. Satgas PRR mencatat masih terdapat 529 KK yang tinggal di tenda. Di sisi lain, proses relokasi terus berjalan. Dari 2.325 unit huntara yang tersedia di wilayah tersebut, 1.633 unit di antaranya telah dihuni oleh warga terdampak.
Kondisi serupa juga masih terlihat di Aceh Utara. Hingga kini masih terdapat 273 KK pengungsi. Pemerintah telah menyiapkan 3.469 unit huntara di wilayah ini, dengan 2.110 unit di antaranya sudah ditempati oleh warga.
Secara keseluruhan ada 12 kabupaten terdampak di Provinsi Aceh. Selain Aceh Tamiang dan Aceh Utara, 10 kabupaten lainnya sudah tidak ada pengungsi di tenda. Artinya mereka akan merayakan Idul Fitri di tempat yang lebih layak.
Totalnya, pemerintah telah menyiapkan 13.658 unit hunian sementara di provinsi ini. Dari jumlah tersebut, 10.812 unit telah dihuni oleh warga terdampak. Adapun 812 KK sisanya akan terus diupayakan untuk segera direlokasi ke huntara.
Sementara Sumatera Utara juga membawa kabar baik. Sebab tidak ada lagi warga di tenda pengungsian menjelang Idul Fitri. Dari 969 huntara yang disiapkan pemerintah, 961 di antaranya sudah dihuni oleh masyarakat terdampak.
Rinciannya, Kabupaten Tapanuli Utara memiliki 40 unit huntara dan 39 di antaranya telah dihuni. Kondisi serupa juga terlihat di Tapanuli Tengah. Di wilayah ini tersedia 164 unit huntara, dengan 157 unit di antaranya sudah ditempati oleh warga terdampak. Kemudian, di Tapanuli Selatan, 765 unit huntara yang disiapkan pemerintah seluruhnya telah dihuni oleh warga.
Di sisi lain, Sumatera Barat sudah tidak lagi memiliki pengungsi sejak Februari. Seluruh unit huntara yang berjumlah 830 telah ditempati. Tersebar di enam kabupaten/kota, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Pesisir Selatan, dan Kota Padang.
Satgas PRR optimistis bahwa upaya relokasi akan tercapai sesuai jadwal dan dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Pemerintah terus melakukan akselerasi agar masyarakat bisa merayakan idul fitri dengan aman dan nyaman.
Langkah ini adalah bentuk komitmen Satgas PRR dalam mengakselerasi pemulihan dengan memastikan seluruh indikator. Selain huntara, Satgas PRR juga memastikan penyelenggaraan pemerintahan, layanan publik dasar, konektivitas jalan, kegiatan ekonomi, hingga kebutuhan pokok masyarakat kembali berjalan normal. Upaya percepatan ini ditempuh melalui koordinasi intensif dengan kementerian/lembaga serta pemerintah daerah. (*)






