MOTOR penggerak Aksi Kamisan di Yogyakarta, Social Movement Institute (SMI), diduga mengalami teror saat menggelar Pesantren Ramadan Islam Kiri pada 5–8 Maret 2026. Pesantren Islam Kiri merupakan sekolah politik alternatif bagi anak muda yang membahas merosotnya demokrasi dan meningkatnya ancaman militerisme di Indonesia. Teror yang terjadi berupa kemunculan ular di sekretariat organisasi itu hingga order fiktif melalui aplikasi ojek online yang menyasar rumah salah satu aktivis.
Kegiatan Pesantren Ramadan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira, dosen Universitas Gadjah Mada Amalinda Savirani, pengamat militer Made Supriatma, serta jurnalis sekaligus host siniar program Bocor Alus Politik Francisca Christy Rosana.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dugaan teror pertama terjadi pada Jumat pagi, 6 Maret 2026. Aktivis SMI menemukan seekor ular koros sepanjang sekitar dua meter di teras depan sekretariat mereka di Yogyakarta. Aktivis SMI, Ahmad Fauzan Mahdi, mengatakan kemunculan ular sepanjang sekitar 2 meter benar-benar mengejutkan karena berada di teras depan sekretariat SMI. “Sekretariat kami berada di perkampungan padat penduduk dan halamannya tidak ditumbuhi banyak tanaman. Kami saat itu fokus menyiapkan acara pesantren Islam Kiri,” ujar Ahmad saat dihubungi pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Menurut Ahmad, ular itu berukuran sebesar lengan manusia. Para aktivis kemudian menangkapnya. Ahmad lalu menunjukkan foto ular yang ditangkap tersebut. Mereka menilai kemunculan reptil itu tidak lazim mengingat kondisi lingkungan sekitar yang padat permukiman.
Dua hari setelah peristiwa itu, dugaan teror kembali terjadi. Seorang pengemudi ojek online mendatangi rumah aktivis SMI lainnya, Eko Prasetyo, di Yogyakarta dengan alasan mengambil paket kiriman atas nama Adam yang disebut akan dikirim ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Eko mengatakan dirinya tidak pernah memesan layanan pengiriman melalui aplikasi ojek online tersebut. Namun, keesokan harinya rumahnya kembali didatangi pengemudi ojek online hingga empat kali pada waktu yang berbeda. Para pengemudi yang datang juga berasal dari perusahaan layanan aplikasi yang berbeda-beda.
Rumah Eko dilengkapi kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) yang pengawasannya turut melibatkan ketua rukun tetangga setempat. Menurut Eko, setiap pengemudi yang datang sempat memotret rumahnya. “Saya khawatir itu bagian dari pemantauan,” kata Eko.
SMI merupakan organisasi masyarakat sipil yang telah lebih dari satu dekade aktif dalam advokasi hak asasi manusia dan kritik terhadap militerisme. Kelompok ini juga terlibat dalam Aksi Kamisan di Yogyakarta yang kerap diikuti kalangan muda sebagai bentuk protes terhadap berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Organisasi ini terhubung dengan berbagai jaringan masyarakat sipil, termasuk Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Eko menduga rangkaian kejadian tersebut berkaitan dengan aktivitas SMI yang kerap mengkritik kecenderungan militerisme dalam pemerintahan. Meski begitu, ia menegaskan organisasi tersebut tidak akan mundur. “SMI tidak tunduk pada teror yang menjadikan demokrasi Indonesia mundur,” kata Eko.





