KEMENTERIAN Pertahanan telah mencapai kesepakatan dengan India untuk memboyong sistem rudal BrahMos sebagai bagian memodernisasi alat utama sistem persenjataan. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan rencana mengakuisisi sistem rudal supersonik ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
“Pada tahun 2024 telah dilakukan kesepahaman minat atau expression of interest dalam kerangka kerja sama pertahanan antara Indonesia dan India,” kata dia dalam keterangannya pada Kamis, 12 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Rico menyatakan pemerintah belum dapat mengungkap lebih detail terkait pengadaan rudal BrahMos ini. Menurut dia, informasi mengenai jumlah unit, nilai kontrak, maupun jadwal pengiriman bersifat kontraktual yang tak dapat dipublikasikan secara terbuka.
“Saat ini prosesnya masih terkait dengan ketersediaan anggaran dan mekanisme lebih lanjut. Nanti kami kabari jika akan tiba,” ujar jenderal bintang satu tersebut.
Laporan India Today pada 27 Januari 2025, Indonesia disebut telah menyelesaikan kesepakatan pembelian rudal BrahMos dari India senilai US$ 450 juta atau setara Rp 7,6 triliun. Adapun rudal BrahMos merupakan alat tempur yang dikembangkan melalui kerja sama antara India dan Rusia. Nama BrahMos sendiri diambil dari Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia.
Sistem rudal jelajah supersonik ini dirancang sebagai senjata dengan tingkat kepresisian yang tinggi untuk menyerang target baik di darat maupun laut. Salah satu keunggulan rudal BrahMos ini memiliki kecepatan yang mencapai sekitar Mach 2,8 hingga Mach 3 atau hampir tiga kali lipat kecepatan suara. Kecepatan tinggi yang ada pada rudal BrahMos membuat rudal supersonik ini sulit dicegah oleh sistem pertahanan udara.
Selain presisi dan cepat, rudal BrahMos memiliki jangkauan yang jauh. Varian standar BrahMos dapat menjangkau target sekitar 300 hingga 500 kilometer. Sedangkan varian ekspor biasanya jangkauannya dibatasi menjadi 290 kilometer, sebagaimana aturan pengendalian teknologi rudal internasional.
Rudal BrahMos juga tergolong fleksibel karena bisa diluncurkan dari berbagai platform seperti pesawat tempur, kapal selam, kapal perang, maupun peluncur darat bergerak. Untuk rudal BrahMos yang ditembakkan dari kapal maupun darat berukuran panjang 8,2 meter dengan diameter badan 0,67 meter, memiliki berat peluncuran 3.000 kilogram.
Sedangkan rudal BrahMos yang diluncurkan dari udara memiliki panjang 8,0 meter, diameter 0,67 meter, dan memiliki berat peluncuran 2.200 hingga 2.500 kilogram. Hulu ledak yang dibawa rudal jelajah supersonik buatan India dan Rusia ini mencapai 200 hingga 300 kilogram atau hulu ledak submunisi sebesar 250 kilogram.
Peneliti dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia Beni Sukadis mempertanyakan kesiapan pelatihan awak dari Indonesia yang nantinya akan mengoperasikan rudal BrahMos tersebut. Dia juga mempertanyakan upaya pemeliharaan kendaraan pengangkut rudal BrahMos agar dapat beroperasi dalam jangka waktu lama.
“Saya melihat pembelian BrahMos ini menambahkan deterrent bagi militer Indonesia untuk pertahanan pantai,” katanya ketika dihubungi Rabu, 11 Maret 2026.
Instansi pertahanan Indonesia, ujar dia, ingin menerapkan strategi pertahanan yang bersifat Anti Access/Area Denial, strategi militer yang berfokus pada pencegahan atau membatasi musuh masuk ke wilayah pertahanan. Meski perlu diperjelas ihwal awak dan kendaraan pengangkut, Beni menilai pembelian rudal BrahMos dari India ini masih masuk dalam kerangka modernisasi militer Pasca Minimum Essential Force tahun 2019-2024.
“Untuk urgensi bisa dikatakan relevan karena persoalan geopolitik yang tidak menentu memungkinkan terjadi konflik di wilayah seperti di laut Cina selatan,” ujarnya.
Terlebih, dia mengatakan bahwa beberapa waktu ini Cina tergolong agresif dalam melakukan manuver militer, tak hanya di laut Cina selatan melainkan di Selat Taiwan. Kondisi tersebut, kata dia, membuat Indonesia bisa terseret dalam konflik itu jika otoritas Cina gegabah atau trigger-happy. “Walau bukan pihak terlibat, Indonesia bisa terseret dalam konflik karena berada dekat di wilayah konflik,” ucapnya.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menyatakan pengadaan rudal BrahMos ini nantinya bakal dipakai untuk mendukung kemampuan pertahanan pantai atau coastal defence. “Dalam rangka memperkuat pertahanan maritim Indonesia,” katanya.





