SEKRETARIS Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron mengatakan partainya bakal mengikuti apa pun keputusan Presiden Prabowo Subianto, khususnya soal ramai desakan keluar dari forum Board of Peace (BoP).
Dia berpendapat, Prabowo sebagai kepala negara tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan, terutama mengenai keanggotaan Indonesia dalam forum yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Sikap kami sejalan dengan Presiden. Pada akhirnya apakah akan melanjutkan atau mempertimbangkan lain (soal BoP), kami tetap mendukung kebijakan Presiden,” kata Herman di Kompleks DPR, MPR, dan DPD pada Rabu, 11 Maret 2026.
Sejak pekan lalu, desakan agar Indonesia keluar dari keanggotaan BoP terus digaungkan sejumlah kalangan, dari mahasiswa, masyarakat sipil, akademikus, perguruan tinggi, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Melalui Tausiyah MUI dalam surat bernomor Kep-28/DP-MUI/III/2026, MUI mendesak pemerintah agar mencabut keanggotaan dari BoP.
Alasannya, forum yang dibesut Trump ini dianggap tidak efektif dalam mewujudkan kemerdekaan sejati di Palestina. Penilaian ini diperkuat oleh sikap Trump yang bersama Israel menyerang Iran.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto Abdul Hakim menyatakan serangan ini menjadi bukti konkret bahwa Trump sejatinya adalah perusak atau penghancur perdamaian.
“Karena itu, BoP makin kehilangan legitimasi moral, politik, dan bahkan hukum karena telah nyata tak berguna untuk menciptakan perdamaian sejati, apalagi keadilan,” kata Sudarnoto melalui keterangan tertulis, Ahad, 1 Maret 2026.
Selain MUI, Majelis Pertimbangan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (MPP PKS) mendesak Prabowo menarik status keanggotaan Indonesia dalam BoP.
Ketua MPP PKS Mulyanto mengatakan operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat dengan sekutunya Israel ke Iran secara obyektif telah mengubah konteks strategis yang melatarbelakangi pembentukan BoP.
“Kami menilai sangat diperlukan evaluasi komprehensif dan sungguh-sungguh atas keanggotaan di BoP ini,” ujar Mulyanto melalui pesan WhatsApp, Kamis, 5 Maret 2026.
Alih-alih menjaga perdamaian, kata dia, Amerika justru memicu konflik dengan melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, akhir pekan lalu.
“Evaluasi terhadap keanggotaan di BoP bukan sikap emosional, melainkan langkah rasional,” ucap Mulyanto.
Keputusan bergabung dengan BoP dilakukan Prabowo kala menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Swiss pada 22 Januari 2026.
Di hadapan Trump dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, Prabowo membubuhkan tanda tangan di atas piagam BoP sebagai tanda persetujuan bergabung dengan forum yang dibentuk Negeri Abang Sam itu, sekutu dekat Israel.
BoP diklaim bakal menangani konflik di berbagai belahan dunia, salah satunya di Gaza, Palestina.
Pilihan Editor: Perang AS-Iran, Prabowo: Kami Ada di Jalur yang Tak Memihak






