Komisi X DPR Sebut Membaca Bagian Hak Dasar Pendidikan

INFO NASIONAL – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mengkritik fenomena tingginya harga buku di Indonesia yang kini mulai bergeser dari hak dasar pendidikan menjadi sebuah “kemewahan” bagi masyarakat, terutama di wilayah luar Pulau Jawa. Fikri menegaskan jika keluhan harga mahal masih terus terjadi, hal itu merupakan indikasi kuat belum terlaksananya amanah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

Ia mengingatkan bahwa semangat undang-undang tersebut adalah menjamin ketersediaan buku yang bermutu, murah, dan merata dari Aceh hingga Papua. “Sebenarnya buku paket diproduksi pemerintah melalui Pusat Perbukuan di Kemendikdasmen. Namun, kalau di bawah (masyarakat) masih dikeluhkan mahal, berarti tidak sesuai dengan amanah UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Kita perlu evaluasi agar semangat buku bermutu, murah, dan merata ini benar-benar terwujud,” kata Fikri di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Politisi Fraksi PKS ini juga menyoroti dampak sistemik harga buku terhadap angka literasi nasional. Menurutnya, ketika buku sulit dijangkau, minat baca masyarakat akan terjun bebas.

Di sisi lain, ia melihat pemerintah masih “ngambang” dalam menyikapi kebijakan digitalisasi pendidikan jika dibandingkan dengan negara lain seperti Australia atau Finlandia. “Kita memang ada alasan era digitalisasi, tapi kebijakannya masih ngambang. Tidak seperti Australia yang tegas melarang medsos di sekolah, kita tidak ada sikap itu. Maka, satu-satunya cara adalah dengan buku fisik,” ujarnya.

Wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) itu menggarisbawahi kekhawatiran para orang tua dan pengamat psikologi pendidikan mengenai dampak negatif penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan pada tumbuh kembang anak. Fikri berpendapat bahwa kemunduran potensi anak bisa terjadi akibat ketergantungan pada media sosial.

“Kalau memang solusi Menteri Pendidikan adalah ‘pelajaran mendalam’, ya sarana utamanya buku harus dipenuhi. Jika masih mahal, pemerintah wajib memberikan subsidi. Jika belum merata, distribusikan secara adil sampai ke pelosok Papua,” ucap Fikri.

Tingginya biaya logistik dan rantai distribusi yang panjang saat ini seringkali membuat ongkos kirim buku ke luar Jawa lebih mahal daripada harga bukunya sendiri. Fikri pun meminta hal itu harus segera diintervensi oleh kebijakan fiskal pemerintah. (*)

  • Related Posts

    OTT Bupati Cilacap, KPK Amankan Total 27 Orang

    Jakarta – KPK mengamankan total 27 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Salah satunya Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman. “Hari ini tim mengamankan sejumlah 27…

    BPJS Kesehatan Tetap Buka saat Libur Lebaran, Ini Jam Operasionalnya

    Jakarta – Layanan BPJS Kesehatan tetap beroperasi saat libur Lebaran 2026. Jika Anda memerlukan pelayanan BPJS Kesehatan secara langsung, silakan datang ke kantor cabang terdekat. Mengutip dari akun Instagram BPJS…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *