Harga Minyak Dunia Naik, Purbaya: Belum Perlu Rombak APBN

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak ingin terburu-buru merombak anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN karena harga minyak dunia yang sempat naik. Menurut Purbaya, harga minyak global perlu dipantau karena masih bersifat fluktuatif.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Purbaya ingin memastikan harga minyak stabil sebelum mengambil langkah perombakan anggaran negara. “Jadi kita lihat dan pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun? (Kalau) beberapa minggu naik, kita bisa antisipasi (akan) naik terus. Ini kan enggak. Naik tiba-tiba turun lagi,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 10 Maret 2026.

Purbaya berujar perubahan APBN harus dilakukan dengan hati-hati. Anggaran negara, kata dia, tidak bisa diubah dengan terlalu reaktif.

Purbaya tidak ingin berulang kali mengubah APBN jika harga minyak terus naik dan turun secara fluktuatif. “Capek lah gue kerjanya mengubah anggaran terus. Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya (membahas APBN),” kata dia.

Purbaya juga memastikan APBN saat ini masih bisa membiayai subsidi bahan bakar minyak (BBM) di tengah fluktuasi harga global. “Masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naik (harga minyak), kita subsidinya setahun penuh,” tuturnya.

Penutupan Selat Hormuz di Teluk Persia akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengakibatkan lonjakan harga minyak global. Konflik di kawasan tersebut kini telah memasuki hari ke-11.

Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai US$ 118 per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar US$ 64 per barel, dan US WTI berada di angka US$ 57,87 per barel.

Pada Selasa, 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sempat turun menjadi US$ 92,45 per barel. Penurutnan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang di Timur Tengah akan segera berakhir.

Dalam konflik antara AS-Israel melawan Iran, serangan militer terjadi di beberapa wilayah, termasuk Iran bagian tengah dan Beirut. Situasi semakin memanas setelah Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—dilaporkan masih tertutup secara efektif. Jalur ini diketahui menjadi rute bagi sekitar seperlima distribusi minyak global.

Penutupan jalur strategis tersebut juga memaksa sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, mengurangi produksi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas.

Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: BGN: Menu MBG Lele Mentah untuk Digoreng di Rumah

  • Related Posts

    KPK Yakin Hakim Tolak Praperadilan Yaqut: Rugikan Negara dan Jemaah Haji

    Jakarta – Gugatan praperadilan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait status tersangka kasus korupsi kuota haji akan diputus besok. KPK yakin gugatan Yaqut akan ditolak. “KPK tentu optimis ya…

    Kepala Pentagon bersumpah akan menjadi 'hari paling intens' serangan AS terhadap Iran

    Pete Hegseth mengatakan Donald Trump mengendalikan laju perang, namun mengakui bahwa Israel memiliki tujuannya sendiri. Kepala Pentagon Pete Hegseth menyatakan bahwa Amerika Serikat “menang” dalam perang melawan Iran, namun dia…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *