MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan masyarakat tak perlu melakukan panic buying atau beli panik bahan bakar minyak (BBM). Menurut Bahlil, masyarakat harus tetap tenang di tengah fluktuasi harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Saya menyarankan dan meminta tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Bahlil, daya tampung BBM di Indonesia saat ini cukup untuk 21 hingga 25 hari. Namun, dia berujar, stok BBM terus diisi ulang jika berkurang. Dia mengklaim industri BBM dalam negeri masih terus berjalan sementara impor minyak dari luar negeri tidak menghadapi masalah.
Bahlil menilai perang di Timur Tengah juga memiliki dampak terbatas terhadap stok BBM dalam negeri. Sebab, kata dia, Indonesia hanya mengimpor crude oil atau minyak mentah dari kawasan tersebut.
Indonesia, dia berujar, punya sumber BBM lain. “Minyak jadi kita impor dari negara Asia Tenggara dan produksi dalam negeri. Jadi enggak perlu ada sampai (panic buying) begitu,” ucap Ketua Umum Partai Golkar ini.
Penutupan Selat Hormuz di Teluk Persia akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengakibatkan lonjakan harga minyak global. Konflik di kawasan tersebut kini telah memasuki hari ke-11.
Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai US$ 118 per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022. Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar US$ 64 per barel, dan US WTI berada di angka US$ 57,87 per barel.
Pada Selasa, 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sempat turun menjadi US$ 92,45 per barel. Penurunan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang di Timur Tengah akan segera berakhir.
Dalam konflik antara AS-Israel melawan Iran, serangan militer terjadi di beberapa wilayah, termasuk Iran bagian tengah dan Beirut. Situasi semakin memanas setelah Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—dilaporkan masih tertutup secara efektif. Jalur ini diketahui menjadi rute bagi sekitar seperlima distribusi minyak global.
Penutupan jalur strategis tersebut juga memaksa sejumlah produsen minyak di kawasan Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, mengurangi produksi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas.
Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: BGN: Menu MBG Lele Mentah untuk Digoreng di Rumah





