KORBAN banjir Sumatera di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara kekurangan air bersih. Untuk mengatasi kekurangan air bersih itu, misalnya, warga Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan berusaha menggali tanah hingga kedalaman 40 meter. Tapi mereka tidak juga mendapatkan air bersih.
Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, mengatakan sumber air bersih yang selama ini melimpah di Garoga rusak akibat banjir bandang dan longsor yang melanda 53 kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada akhir November 2025. “Kami sudah berupaya bergotong royong menggali tanah, namun kami belum memperoleh sumber air bersih,” kata Risman, Senin 9 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penduduk Desa Garoga sebanyak 245 kepala keluarga. Semuanya menjadi korban banjir bandang yang melanda Desa Garoga, pada November 2025. Saat ini mereka menempati hunian sementara setelah rumah-rumah penduduk luluh lantak akibat banjir.
Banjir bandang dan tanah longsor melandak 53 kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada akhir November 2025. Bencana Sumatera ini mengakibatkan 1.204 jiwa meninggal dan 104 orang masih dinyatakan hilang hingga Februari 2026. Salah satu daerah paling parah dilanda banjir bandang itu adalah Desa Garoga.
Risman Rambe mengatakan, selama ini warga Garoga mendapat bantuan air bersih dari pemerintah. Pemerintah menyediakan tangki air di tiga lokasi. Tapi tiga tangki air tersebut tidak cukup memenuhi kebutuhan air bersih warga Garoga.
Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu mengatakan kebutuhan air bersih untuk warga korban banjir untuk sementara masih dibantu melalui mobil pemadam kebakaran milik kabupaten. Mobil tanki air bersih digunakan sementara sambil menunggu penyelesaian sumur bor di lokasi hunian sementara.
Di samping urusan air bersih, warga Garoga juga mulai kebingungan untuk bekerja. Mereka rata-rata bekerja sebagai petani. Tapi mereka kehilangan lahan pertanian akibat banjir bandang tersebut. Total lahan persawahan di Garoga seluas 54 haktare. Kebun warga yang luasnya lebih dari 50 haktare juga rusak parah akibat banjir.
“Sampai saat ini pemerintah belum mengganti lahan pertanian warga,” kata Risman Rambe.
Korban banjir, Risman, mengatakan mereka masih menempati hunian sementara karena rumah hunian tetap yang dijanjikan oleh pemerintah belum dibangun. Lokasi pembangunan rumah hunian tetap buat korban banjir di Garoga yang disiapkan oleh pemerintah kabupaten berada di Desa Nepa seluas 15 hektare.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah soal ini. Saat ini saya rapat dengan Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan,” ujar Risman.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara sekaligus Ketua Tim Posko Darurat Bencana Sumatera Utara, Basarin Yunus Tanjung, mengatakan pemerintah daerah sudah menetapkan sejumlah titik lokasi pembangunan hunian tetap dan hunian sementara berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Tujuan verifikasi adalah untuk memastikan lahan yang digunakan legal dan layak dibangun rumah.
Beberapa lokasi hunian sementara dan hunian tetap korban banjir Tapanuli Selatan berada di areal perkebunan milik PT Perkebunan Negara (PTPN) di Kecamatan Batang Toru, Desa Napa, Lapangan Bola Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan, dan Dusun Aek Latong, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok.
Basarin mengakui pembagunan hunian tetap untuk korban banjir belum dimulai karena masih menunggu penyiapan lahan oleh pemerintah setempat. Lahan yang akan dijadikan hunian tetap bukan milik pemda.
“Jadi, masih harus mencari lahan dari pihak ketiga, apakah milik swasta atau aset pemerintah pusat. Semua masih menunggu proses penyediaan lahan,” kata Basarin.
Ia mengklaim pemerintah Sumatera Utara optimistis pembangunan rumah hunian tetap sebanyak 1.103 unit di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga bisa segera dimulai meski masih menunggu proses penyediaan lahan.






