Kisah Mahasiswa Indonesia di Teheran Dievakuasi Saat Perang

AHMAD Hukam Mujtaba baru saja tiba di asramanya di Teheran setelah mengikuti kegiatan bersama sejumlah pelajar Indonesia di Iran ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang negara itu. Serangan tanpa provokasi tersebut terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Mahasiswa magister di Ahlul Bayt University ini kemudian segera pindah ke rumah staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Iran bersama delapan warga negara Indonesia lainnya. Lokasi tempat evakuasi itu tidak jauh dari kantor kedutaan di pusat kota Teheran.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebelumnya Ahmad tinggal di asrama kampus bersama mahasiswa asing lainnya. Ia mengatakan pengelola asrama menginstruksikan para penghuni untuk meninggalkan tempat tersebut sementara waktu. “Hari ketujuh perang sudah ada instruksi untuk mengosongkan asrama,” kata Ahmad saat dihubungi pada Senin, 9 Maret 2026.

Eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat turut berdampak pada kegiatan perkuliahan para pelajar. Ahmad menuturkan kampusnya masih meliburkan mahasiswa hingga situasi kembali normal.

Sejumlah fasilitas pelayanan publik seperti bank, kantor swasta, hingga minimarket juga sempat tutup, terutama saat masa berkabung setelah meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Meski demikian, Ahmad mengatakan masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa di tengah masa berkabung tersebut.

Warung-warung sembako masih buka dan jalanan tetap ramai, meskipun dentuman rudal terdengar jelas dari pusat kota. Menurut Ahmad, sedikitnya sepuluh dentuman terdengar setiap hari sejak perang berlangsung. “Namun masyarakat di sini seperti tidak takut perang. Saya merasakan euforia dari masyarakat Iran,” ujarnya.

Saat ini Ahmad sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Ia bersama rombongan warga negara Indonesia di Iran dievakuasi oleh Kementerian Luar Negeri. Pemerintah mengevakuasi warga secara bertahap. Ahmad menuturkan, perjalanan pulang tidak bisa dilakukan langsung dengan penerbangan dari Iran. “Jalur udara dari kawasan Iran masih ditutup,” katanya. Karena itu, perjalanan harus ditempuh melalui jalur darat terlebih dahulu.

Rombongan dibawa ke Baku, Azerbaijan, sebelum melanjutkan penerbangan ke Indonesia. Perjalanan darat dari Teheran ke Baku menggunakan bus memakan waktu sekitar 14 jam. Di Baku, Ahmad dan rombongan transit di penginapan selama satu hari. Ia mengatakan pemerintah Indonesia menanggung seluruh biaya evakuasi tersebut. “Kami lanjut terbang ke Indonesia dari Azerbaijan pada 9 Maret. Kemungkinan sehari setelahnya sudah sampai,” kata Ahmad.

  • Related Posts

    Bupati Rejang Lebong dkk Ditangkap KPK Saat Bukber di Restoran

    Jakarta – KPK menangkap Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari (MFT) lewat operasi tangkap tangan (OTT) terkait kasus suap ijon proyek. KPK mengungkapkan, Bupati Fikri dan tersangka lainnya ditangkap saat…

    Data Satgas PRR: 62 Persen Jembatan Darurat Rampung, Konektivitas Semakin Pulih

    INFO TEMPO – Konektivitas antar masyarakat adalah salah satu prioritas pemerintah dalam pemulihan pascabanjir yang melanda Sumatra pada akhir 2025. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) sekaligus…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *