KETUA Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan memprediksi perang antara Iran dengan Amerika Serikat yang bersekutu dengan Israel tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Pandangan ini bagikan Luhut melalui akun Instagram miliknya, @luhut.pandjaitan pada Jumat, 6 Maret 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu menjelaskan, Iran merupakan bangsa yang tidak pernah dijajah selama ribuan tahun lamanya. Berbagai pertempuran dalam sejarah juga telah membuktikan bahwa bangsa Iran merupakan bangsa pejuang yang tidak mudah dikalahkan.
Keteguhan Iran juga terbukti dari serangan Amerika yang menewaskan sejumlah pemimpin Iran, termasuk pimpinan tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Alih-alih melemah, serangan balasan dari Iran justru semakin menjadi-jadi.
Luhut memperkirakan perang ini akan berlangsung setidaknya hingga sebulan ke depan. “Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan, karena meski beberapa pemimpin mereka yang dibunuh, tidak ada tanda-tanda melemah,” kata dia.
Luhut menuturkan secara persenjataan Amerika memang lebih unggul. Beberapa serangan dari Iran juga tampak menurun. Namun begitu, Luhut ragu tekanan dari AS itu mampu menggoyahkan pendirian bangsa Iran, sehingga pergantian rezim sebagaimana keinginan AS bisa terwujud.
“Kalau semua sistem persenjataan mereka (Iran) bisa dihancurkan, roketnya, drone-nya, produksi dan lainnya, bisa enggak membuat pergantian rezim? Kalau itu tidak terjadi, maka perang ini akan berkepanjangan,” katanya.
Di sisi lain, menurut Luhut, Amerika juga akan berpikir berulang kali untuk menerjunkan ground force atau pasukan darat untuk mempercepat kekalahan Iran. Sebab, pilihan itu berisiko menciptakan banyak korban. “Amerika akan mikir 10 kali mau ngirim ground forces ke sana. Karena pasti akan banyak korban, dan rakyat Amerika pasti marah.”
Atas dasar itu, Luhut berpendapat Indonesia harus berhati-hati dalam menentukan langkah dalam menghadapi kondisi ini. Ia juga berpesan Indonesia tidak boleh berpihak kepada salah satu dari kubu yang tengah berkonflik tersebut.
“Sebagai negara nonblok itu memang Indonesia harus hati-hati menyusun strategi luar negerinya. Karena ini dampaknya pada ekonomi,” kata dia.
Luhut mengingatkan sektor energi, terutama pasokan minyak akan menjadi salah satu sektor yang paling depan terganggu. “Satu hal yang saya terus pantau dari eskalasi ketegangan ini adalah adanya potensi gangguan pada jalur distribusi energi seperti di Selat Hormuz. Yang tentu saja dampaknya akan terasa langsung pada pasokan minyak dan stabilitas ekonomi nasional,” tuturnya.






