MENTERI Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin memperkirakan jumlah pekerja migran Indonesia di Iran hanya seratusan. Menurut dia, tidak banyak warga negara Indonesia yang bekerja di sana.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Rata-rata mereka pekerja domestik,” tutur Mukhtarudin saat ditemui di Kantor KP2MI, Jakarta, pada Kamis, 5 Maret 2026.
Mukhtarudin menyebutkan mereka yang bekerja di sana pun merupakan pekerja yang berangkat secara mandiri dan bukan ditempatkan oleh pemerintah. Kata dia, pemerintah sejak awal tidak menjadikan Iran sebagai negara penempatan PMI lantaran wilayah itu rentan konflik. “Jadi itu (PMI) bukan penempatan kami, ya,” katanya.
Menurut dia, hingga saat ini belum ada laporan apa pun dari pekerja migran di Iran, baik kepada KP2MI maupun kedutaan besar RI di Teheran. Pekerja migran di Iran juga disebut tidak ada yang terdampak akibat perang dengan Amerika dan Israel.
“Tidak ada masalah. Artinya mereka masih dalam kontrol pemerintah Iran, dan dalam kontrol juga dari perwakilan kita,” kata dia.
Kendati demikian, Mukhtarudin mengatakan pemerintah akan tetap memantau perkembangan situasi di Iran dan sejumlah wilayah kawasan yang terdampak konflik. “Karena eskalasinya kan meningkat terus. Jadi tetap kita pantau dan siapkan langkah-langkah darurat.”
Eskalasi konflik di Timur Tengah memuncak sejak rudal Amerika menyerang Iran pada Sabtu, 26 Februari 2026. Iran melawan dengan memberikan serangan balasan ke sejumlah pangkal militer AS yang ada kawasan Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Perang ini pecah usai AS dan Iran batal membuat kesepakatan tentang pemakaian nuklir di Jenewa, Swis, pada 26 Februari 2026.






