Kuliah Umum ASN OIKN, MenPAN-RB Sebut IKN sebagai Cara Baru Bernegara

Jakarta

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Rini Widyantini menyampaikan Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar memindahkan pusat pemerintahan. Ia menilai IKN adalah kesempatan untuk merancang ulang cara negara bekerja, cara birokrasi mengambil keputusan, dan cara melayani masyarakat.

Pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan melalui kutipan Thucydides: “The strong do what they can and the weak suffer what they must”. Artinya, hanya bangsa yang memiliki kekuatan fondasional yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Adapun salah satu syarat utama kelangsungan peradaban sebuah negara yaitu birokrasi yang unggul.

“Dalam konteks IKN, pesan tersebut menjadi sangat relevan. IKN bukan sekadar memindahkan pusat pemerintahan. IKN adalah kesempatan untuk merancang ulang cara negara bekerja, mengambil keputusan, dan melayani masyarakat,” kata Rini dalam keterangannya, Sabtu (14/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara pada Kuliah Umum bagi ASN Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Jumat (13/2/2026). Menurutnya, IKN bukan sekadar pemindahan pusat pemerintahan. IKN adalah simbol cara baru negara bekerja, dimana kualitas birokrasi di IKN akan menjadi wajah peradaban baru Indonesia.

Rini menegaskan IKN saat ini tidak hanya membangun birokrasi yang bekerja sendiri-sendiri. Namun, IKN membangun smart governance, yaitu negara yang lebih lincah, lebih terintegrasi, dan lebih hadir.

“Melalui layanan berbagi pakai, baik shared office maupun shared system, kita mendorong efisiensi, kolaborasi, dan percepatan pengambilan keputusan. Dengan demikian, fasilitas pendukung terkelola bersama, sistem digital terintegrasi, dan pola kerja bergerak menuju agile government,” ucap Rini

Lebih lanjut, Rini menyampaikan pengalaman negara lain menunjukkan integrasi kawasan dan layanan digital terpadu adalah kunci efektivitas pemerintahan.

“Di IKN, kita memiliki kesempatan untuk menerapkannya sejak awal, bukan sebagai perbaikan, tetapi sebagai desain dasar. Inilah fondasi smart governance di IKN: terintegrasi, kolaboratif, dan berorientasi hasil,” jelasnya.

Ia menambahkan, IKN lahir di tengah era disrupsi, yakni saat dunia berubah sangat cepat, didorong oleh digitalisasi dan percepatan Artificial Intelligence (AI). Di kondisi ini, pelayanan publik dituntut semakin cepat, terintegrasi, dan responsif.

“Pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Oleh karena itu, IKN tidak bisa dibangun dengan cara berpikir birokrasi konvensional. ASN IKN harus menjadi birokrasi digital-native pertama di Indonesia, yang adaptif dan siap memimpin perubahan,” ujarnya.

“Jika IKN lahir di era disrupsi, maka jawabannya jelas. IKN harus dimulai dari manusianya. Kota yang cerdas hanya bisa dibangun oleh aparatur yang terus belajar dan berkembang. Karena itu, kita perlu menetapkan standar kompetensi digital ASN IKN yang jelas dan terukur, disertai asesmen serta pemetaan yang terintegrasi dalam sistem nasional,” pungkasnya.

(akn/ega)

  • Related Posts

    Besok Ada Soekarno Run, Ini Rekayasa Lalin Sekitar Jl Jenderal Sudirman

    Jakarta – Rekayasa lalu lintas akan dilakukan di sehubungan dengan acara Soekarno Run Runniversary 2026. Acara akan dilaksanakan pada Minggu (15/2/2026) pukul 06.00 – 10.00 WIB di kawasan hari bebas…

    Cerita Dodi Gaspol Jam 1 Pagi dari Kalimalang demi War Emas Fisik di JCC

    Jakarta – Gelaran Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, diserbu warga. Salah satunya warga asal Kalimalang, Jakarta Timur, bernama Dodi, yang rela berangkat dari rumah pukul 01.00…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *