Cerita Awal Mula Rencana Pembangunan Gedung Kantor MUI

STAF Khusus (Stafsus) Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan dan Moderasi Beragama Farid F Saenong menceritakan awal mula rencana Presiden Prabowo Subianto membangun gedung perkantoran untuk ormas dan lembaga Islam, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Rencana itu bermula dari pertemuan antara Prabowo dan Menteri Agama Nasaruddin Umar beberapa waktu lalu.

Nasaruddin, kata dia, mulanya menyampaikan ide tentang pembentukan lembaga pengumpulan dana umat kepada Prabowo. Nasaruddin sebelumya berencana membentuk Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU) untuk mengintegrasikan pengelolaan dana umat di Indonesia. Dia melihat potensi pengelolaan dana umat mencapai Rp 500 triliun. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Tingkat probabilitas yang sangat tinggi untuk mendapatkan dana yang besar. Nanti kami kembalikan kepada umat,” kata dia usai mengikuti Seminar Literasi Keagamaan dan Lintas Budaya yang diselenggarakan Institut Leimena di Ambon, Maluku, Kamis, 12 Februari 2026.

Dalam pertemuan yang sama, Farid berkata Nasaruddin menyampaikan kantor MUI sudah tidak layak. Kondisi kantor ormas dan lembaga Islam, seperti Kantor Badan Amil Zakat Nasional juga dijelaskan oleh Nasaruddin. 

Namun, pertemuan itu belum membahas lokasi pembangunan gedung kantor untuk ormas dan lembaga Islam. Prabowo, kata dia, baru menyampaikan rencana pembangunan itu di kegiatan pengukuhan pengurus MUI periode 2025 – 2030, Sabtu, 7 Februari 2026. Pembangunan Kantor MUI dan sejumlah lembaga Islam akan dibangun di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. “Presiden yang spontan menyebutkan itu. Jadi kami belum melihat tindak lanjut apa yang akan dikerjakan setelah ini,” ujar dia. 

Prabowo berencana membangun gedung 40 lantai untuk lembaga Islam, salah satunya Majelis Ulama Indonesia atau MUI, di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Gedung tersebut akan dibangun dari nol di lahan bekas Kedutaan Besar Inggris.

Menteri Sekretaris Negara atau Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan, menara yang direncanakan untuk lembaga Islam tidak akan menggunakan gedung bekas Kedubes Inggris. “Iya (pembangunan dimulai dari nol),” kata Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat pada Selasa, 10 Februari 2026.

Menurut Prasetyo, gedung baru hanya akan menggunakan lahan di lokasi bekas Kedubes. Meski begitu, politikus Partai Gerindra ini belum menyampaikan apakah gedung lama yang merupakan cagar budaya akan digusur atau tidak.

Prasetyo berkata pembangunan gedung untuk lembaga Islam belum akan dimulai. Saat ini, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat ini berujar, menara baru tersebut masih dalam proses desain.

Sultan Abdurrahman berkontribusi dalam tulisan ini.
  • Related Posts

    Sapuan Banjir di Babakan Madang Bikin Mobil Jadi Speedboat

    Bogor – Banjir menerjang dua desa di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Bojongkoneng dan Desa Cijayanti. Banjir bercampur material lumpur itu menghanyutkan mobil bak speedboat. Dirangkum detikcom,…

    Wanti-wanti Pakar ke Indonesia Usai Israel Gabung Board of Peace

    Jakarta – Israel resmi bergabung dengan Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana menilai Israel tidak akan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *