MANTAN Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Letnan Jenderal (Purnawirawan) Agus Widjojo tutup usia pada Ahad malam, 8 Februari 2026. Kabar ini dikonfirmasi oleh Gubernur Lemhanas Ace Hasan.
“Telah berpulang ke rahmatullah Gubernur Lemhanas periode 2016-2022 Bapak Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo bin Sutoyo Siswomihardjo pada Minggu, 8 Februari 2026,” kata Ace dalam keterangannya kepada Tempo.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina ini meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. “Rencana setelah dimandikan di rumah sakit malam ini, jenazah akan disemayamkan di kediaman almarhum di Puri Cikeas,” ucap Ace.
Dilansir dari lemhannas.go.id, sebelum menjabat sebagai Gubernur Lemhannas, Agus sempat menjadi Perwira dalam International Commission for Control and Supervision di Vietnam tahun 1973, dan dalam Kontingen Indonesia untuk United Nations Emergency Force II di Sinai, Timur Tengah pada tahun 1975.
Sebelum pensiun pada 2003, Agus sempat mengemban tugas sebagai Kepala Staf Teritorial Panglima TNI dan sebagai Wakil Ketua MPR Fraksi TNI/POLRI. Agus juga tercatat mengantongi gelar akademik dari beberapa universitas luar negeri.
Agus Widjojo meraih gelar Master bidang Military Art and Science dari U.S. Army Command and General Staff College, bidang Keamanan Nasional dari U.S. National Defense University, dan bidang Administrasi Publik dari George Washington University.
Agus Widjojo merupakan salah seorang penggagas simposium nasional “Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan” yang diadakan pada 2016. Acara tersebut merupakan ajang pelurusan sejarah 1965 yang pertama kali diinisiasi langsung oleh pemerintah.
Sejumlah pihak menilai sosok mantan Gubernur Lemhanas itu sebagai orang yang tepat dalam upaya rekonsiliasi Tragedi 1965. Misalnya yang dituturkan oleh Alissa Wahid, putri mendiang Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dia mengungkapkan bahwa Agus merupakan orang berunsur militer yang memiliki pikiran terbuka.
“Ini terefleksikan bagaimana Pak Agus melihat tragedi 1965 dan rekonsiliasinya. Berpikiran terbuka yang menyeluruh sebagai seorang pelaku sejarah,” ujar Alissa Wahid seperti dikutip dari Antara, Agustus 2021.





