WAKIL Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui pola pelatihan petugas haji yang dijalankan kementeriannya bersifat semimiliter. Pernyataan itu disampaikan Dahnil sebagai respons atas sorotan publik dan pemberitaan di media sosial mengenai metode pelatihan petugas haji yang dinilai keras serta menyerupai latihan militer.
“Apakah benar ini semimiliter? Iya, memang semimiliter,” kata Dahnil dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Dahnil, pendekatan semimiliter diperlukan untuk membangun kedisiplinan, kekompakan, dan jiwa korsa petugas haji. Ia menyebutkan latihan seperti baris-berbaris merupakan bagian dari pembentukan karakter dan kesiapan mental petugas yang akan menangani ratusan ribu anggota jemaah.
Namun Dahnil menepis anggapan bahwa seluruh pelatihan diisi aktivitas fisik semata. Ia mengatakan, pada siang hingga malam hari, petugas justru dibekali materi substantif, dari fikih dasar haji, manasik, pengajian, hingga pelatihan bahasa Arab dasar. Seusai pelatihan luring, peserta juga akan mengikuti pelatihan daring lanjutan, khususnya untuk penguatan bahasa Arab.
Di tengah kritik soal durasi pelatihan yang dinilai terlalu lama, Dahnil bersikap tegas. Ia menyebutkan tidak ada toleransi bagi calon petugas yang tidak siap mengikuti pelatihan penuh selama sekitar 30 hari dengan alasan pekerjaan atau kesibukan pribadi. “Kalau tidak bisa, tidak usah jadi petugas. Jawabannya cuma itu,” ujarnya.
Dahnil menegaskan, status sebagai aparatur sipil negara tidak bisa dijadikan alasan untuk menghindari pelatihan. Menurut dia, petugas haji mengemban tanggung jawab besar karena harus melayani sekitar 221 ribu anggota jemaah haji Indonesia. “Yang kami butuhkan adalah orang yang siap jadi petugas haji, bukan orang yang nebeng naik haji,” tuturnya.
Dahnil menyebutkan kerap mendapat permintaan dan lobi dari berbagai pihak, termasuk tokoh dan kerabat, agar memberi kelonggaran bagi calon petugas yang tidak siap menjalani pelatihan. Namun ia menolak semua permintaan tersebut. “Kalau tidak siap, tidak usah jadi petugas. Ada jutaan orang yang siap,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pelatihan sebulan penuh merupakan prasyarat mutlak. Kementerian Haji, kata Dahnil, ingin menyiapkan pasukan petugas haji yang benar-benar siap melayani jemaah, bukan sekadar mencari kesempatan menunaikan ibadah haji dengan jalur penugasan.






