INFO TEMPO — Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak seluruh elemen bangsa belajar dari Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Selain bermakna keagaaman, juga relevan dengan ketahanan pangan.
“Perintah salat yang diterima Nabi Muhammad SAW mengajarkan disiplin, kejujuran, dan konsistensi. Nilai-nilai ini merupakan pilar utama dalam membangun sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan,” ujar Mardiono pada Kamis malam, 15 Januari 2026.
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional. Menurutnya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pangan bagi seluruh rakyat.
“Pembangunan di sektor pangan harus dilandasi nilai moral, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada kelompok rentan, khususnya petani, nelayan, dan masyarakat kecil di pedesaan,” tegasnya.
Mardiono juga menyoroti makna perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang mencerminkan pesan persatuan lintas wilayah dan peradaban. Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan semangat kebangsaan Indonesia yang majemuk.
“Tidak ada ketahanan pangan tanpa persatuan nasional. Penguatan pangan hanya dapat terwujud melalui sinergi pusat dan daerah, kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat,” ungkapnya.
Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, gejolak geopolitik, dan ketidakpastian rantai pasok pangan dunia, Mardiono menekankan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. “Negara harus hadir dengan kebijakan pangan yang berpihak pada kemandirian nasional, mendorong inovasi, pemanfaatan teknologi, serta tata kelola yang transparan dan berintegritas,” jelas Mardiono.
Lebih lanjut, Mardiono juga menegaskan bahwa kepemimpinan di sektor pangan harus berorientasi pada pelayanan dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian target jangka pendek. “Spirit kenabian mengajarkan bahwa amanat kekuasaan adalah untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia, termasuk hak dasar rakyat atas pangan yang cukup, aman, dan bergizi,” tuturnya.
Ia berharap peringatan Isra Mikraj dapat menjadi penguat etos kerja, solidaritas sosial, dan komitmen kebangsaan dalam mewujudkan ketahanan pangan sebagai fondasi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkeadilan.
“Dengan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai landasan kebijakan publik, bangsa Indonesia akan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan optimisme dan persatuan,” ucapnya penuh keyakinan. (*)






