Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, Agus Saputra, dikeroyok oleh sejumlah siswanya. Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengecam keras pengeroyokan ini.
“Kami mengecam keras setiap bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk peristiwa di SMK tersebut. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan di lingkungan pendidikan,” ujar Hetifah kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).
Ia meminta seluruh pihak perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyelidiki dan mengklarifikasi fakta secara utuh. Penanganan kasus ini, tambahnya, harus dilakukan secara adil dan proporsional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan tetap menjamin perlindungan bagi guru, pembinaan bagi peserta didik, serta penguatan pendidikan karakter dan kewibawaan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang,” tutur Hetifah.
Waka Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani berpandangan serupa. Ia menyorot lemahnya pendidikan karakter.
“Kami memandang peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan kita, terutama melemahnya pendidikan karakter dan nilai penghormatan terhadap guru,” jelas Hadrian.
Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial, kata Hadrian, harus kembali diperkuat perannya dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik.
“Karena itu, kami tetap dan tidak akan lelah mendorong penguatan pendidikan karakter, perlindungan hukum bagi guru, serta penciptaan iklim sekolah yang aman, berdisiplin, dan bermartabat,” sambung Hadrian.
Diketahui, pengeroyokan itu terjadi di lingkungan sekolah saat masih jam kegiatan belajar pada Selasa (13/1). Video sang guru dikeroyok oleh siswanya itu viral di media sosial. Bahkan, dalam video lain sang guru tersebut sempat membubarkan siswanya dengan mengacungkan celurit untuk membubarkan siswanya.
Ketika itu, Agus sedang berjalan di depan kelas dan mendengar salah satunya siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas. Mendengar ucapan itu, Agus masuk ke dalam kelas. Dia meminta siswa di kelas tersebut untuk mengaku siapa yang mengucapkan kalimat tersebut.
“Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ujarnya.
Menurut Agus, tindakan itu sebagai bentuk pendidikan moral. Namun, sang siswa bereaksi marah. Kejadian bergulir sampai dimediasi oleh guru-guru lainnya.
Sementara itu, di sisi lain sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan ‘miskin’ yang memicu keributan tersebut. Namun, menurut Agus, perkataan itu konteks motivasi dan tidak bermaksud menghina.
“Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu secara motivasi pembicaraan,” ungkapnya.
(isa/lir)






