Ini Alasan Petugas Haji Bakal Digembleng Semi-Militer

KEMENTERIAN Haji dan Umrah mulai menerapkan pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan pola semi-militer bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Kemenhaj menjelaskan pola ini diterapkan untuk menjawab keluhan jemaah soal kinerja petugas haji yang dinilai kurang disiplin, tidak responsif, dan kerap meninggalkan tugas pada musim haji sebelumnya.

Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf mengatakan diklat petugas haji tahun ini berlangsung selama 30 hari, terdiri dari 20 hari pelatihan tatap muka dan 10 hari pembelajaran daring. Pelatihan tersebut masih dilanjutkan dengan pembekalan tambahan secara online, khususnya penguatan bahasa Arab.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Tanpa fisik yang kuat dan disiplin yang kuat, petugas tidak akan bisa menjalankan tugas dengan baik,” kata Irfan saat pembukaan diklat calon petugas haji PPIH Arab Saudi di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Ahad, 11 Januari 2026.

Menurut Irfan, selama pelatihan peserta digembleng dengan penempaan fisik, pembinaan kedisiplinan, serta penguatan pengetahuan teknis seputar ibadah haji. Sejak masa diklat, para peserta juga sudah ditetapkan pembagian tugasnya, mulai dari lokasi penempatan, pos layanan, hingga tim kerja. Dengan demikian, petugas diharapkan sudah memahami tanggung jawabnya sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Kementerian juga menerapkan sanksi tegas bagi peserta yang melanggar aturan selama pelatihan. Irfan menegaskan peserta yang tidak disiplin akan dipulangkan dan batal berangkat menjadi petugas haji. “Kalau sudah diperingatkan satu-dua kali tidak bisa, kita pulangkan. Di Saudi pun sama, bisa dipulangkan sebelum waktunya,” ujarnya.

Pelanggaran yang paling diwaspadai, kata Irfan, adalah masalah kedisiplinan dan ketepatan waktu selama pelatihan, serta meninggalkan tugas saat bertugas di Arab Saudi. Selain itu, seluruh petugas dibekali pelatihan bahasa Arab dengan tutor khusus untuk mengatasi kendala komunikasi yang kerap terjadi pada musim haji sebelumnya.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abdul Wachid menilai pola pelatihan semi-militer merupakan langkah maju. Ia menyebut kedisiplinan petugas menjadi faktor kunci keberhasilan penyelenggaraan haji. “Selama ini petugas sudah bertugas, tapi masih banyak yang meninggalkan tugas. Ini sangat mengganggu pelaksanaan haji,” kata Wachid.

Menurut dia, penguatan fisik dan disiplin sangat krusial terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pada fase ini, Kementerian juga merekrut personel TNI-Polri dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, sebanyak 185 orang, untuk memastikan jemaah, terutama lansia, tidak terlantar.

Selain disiplin dan fisik, seluruh petugas juga dibekali pelatihan khusus untuk pelayanan ramah perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Pemerintah berharap dengan pola pelatihan ketat ini, kualitas layanan haji ke depan semakin membaik.

  • Related Posts

    Pria di Tulungagung Bakar Rumah Kekasih, Serahkan Diri Usai Kunci Mobil Hilang

    Jakarta – Seorang pria berinisial ET (41) nekat membakar rumah milik kekasihnya, HI (41) di Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur (Jatim). Aksi pembakaran terjadi lantaran dipicu masalah asmara. “Hubungan asmara…

    Gempa M 4,9 Guncang Melonguane Sulut

    Jakarta – Gempa berkekuatan magnitudo (M) 4,9 mengguncang Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut) Senin dini hari. Gempa tersebut berada di kedalaman 82 km. “Gempa Mag: 4.9, 12-Jan-2026 00:28:01WIB, Lok: 7.65LU, 125.91BT…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *