Cerita Korban Tempuh 14 Jam ke Banda Aceh Demi Beli Susu

‎KORBAN terdampak banjir bandang dan longsor di Takengon, Aceh Tengah hingga kini masih kekurangan kebutuhan susu, pampers, hingga vitamin. Dampak bencana di wilayah itu membuat pasokan kebutuhan dasar khususnya untuk bayi dan ibu menyusui menjadi langka.

‎Azza Afri Saufa, relawan sekaligus korban memutuskan untuk pergi ke Banda Aceh menggunakan mobil travel di tengah terjalnya jalan yang rusak akibat bencana pada akhir November 2025 lalu itu. Dia bersama timnya harus menempuh perjalanan darat selama 14 jam untuk membeli kebutuhan susu hingga vitamin buat 600 pengungsi di desanya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Durasi normal perjalanan dari Takengon ke Banda Aceh seharusnya hanya tujuh jam bila akses darat tak terdampak bencana. ‎”Keperluan untuk balita, ibu hamil itu tidak ada yang memperhatikan. Bantuan selama ini baru berupa sembako seperti beras dan minyak,” kata dia ketika dihubungi pada Ahad, 11 Januari 2026.

‎Menurut dia, anak-anak tidak lagi dapat mengonsumsi susu pascabencana. Penyebabnya swalayan di desa Kebayakan, Takengon, Aceh Tengah kehabisan stok pascabencana. 

‎Kekurangan asupan gizi dan nutrisi untuk anak korban bencana membuat kesehatan serta tumbuh kembang mereka terdampak. Anak-anak itu juga tidak mendapat bantuan peralatan mandi yang memadai. “Dampak saat ini yang terlihat kulit anak-anak cukup kering. Psikologi dan emosional juga, karena tidak mendapat trauma healing yang layak,” ujar Azza.

‎Kondisi itu membuat warga di desanya memutuskan membuka donasi agar kebutuhan gizi dan nutrisi kelompok rentan bisa segera tercukupi. Dalam donasi awal, relawan berhasil mengumpulkan Rp 9 juta. Seluruhnya telah dibelikan untuk kebutuhan susu ibu hamil, susu anak, pampers, vitamin, peralatan mandi, peralatan layanan rumah tangga, alat tulis, pakaian ibadah, hingga mainan anak. “Semuanya sudah disalurkan untuk 600 pengungsi,” kata dia.

‎Selain tak mendapat kebutuhan pangan dan sandang yang cukup, korban terdampak di Takengon, Aceh Tengah juga belum dapat kembali ke rumahnya. Ratusan korban terdampak bencana itu bertahan di pengungsian, bahkan hingga 45 hari pascabencana.

‎Selain itu, Azza menuturkan, keberadaan alat berat masih jarang di daerahnya. Selama ini alat berat yang beroperasi membersihkan sisa lumpur pascabencana justru kebanyakan berasal dari hasil swadaya masyarakat. “Sangat minim sekali alat berat untuk membantu membersihkan puing-puing pascabencana,” katanya.

Banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November tahun lalu. Provinsi Aceh menjadi wilayah yang paling terdampak bencana ekologis itu.

‎Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, sebanyak 544 jiwa meninggal. Jumlah pengungsi terdampak bencana per 45 hari pascabencana mencapai 214 ribu orang. Di Aceh, banjir dan longsor menerjang 18 kabupaten dan kota.

‎Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan sebanyak 14 daerah di Aceh sudah bergeser dari masa tanggap darurat ke masa transisi bencana. Namun, masih ada empat daerah yang memperpanjang masa tanggap darurat bencana yaitu Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya. Masa tanggap darurat diperpanjang sampai 22 Januari 2026.

‎”Empat daerah masih fokus pemulihan akses jalan darat dan distribusi logistik yang masih jauh dari posko kabupaten kota,” kata dia pada Jumat, 9 Januari 2026.

  • Related Posts

    Pria di Kendari Aniaya-Kencingi Pacar Sendiri, Dipicu Cemburu Buta

    Kendari – Seorang pria berinisial LFA (44) menganiaya hingga mengencingi pacarnya, NA (20) di Kendari, Sulawesi Selatan (Sulsel). Aksinya itu dilakukan lantaran pelaku cemburu saat mendapat informasi korban pernah minum…

    Warga Buton Geram Piton 7 Meter Mangsa Ternak, Langsung Ditebas

    Buton – Ular piton sepanjang 7 meter di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) ditebas warga usai memangsa ternak. Ular itu memangsa empat kambing milik warga. “Ada empat ekor kambingku mati…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *